Sebelum
menulis lebih jauh, disclaimer dulu. Saya adalah anak dari Ayah dan Ibu yang
bekerja di luar rumah dari pagi hingga sore hari. Diusia primanya, ada
momen-momen Ayah sering pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan. Biasanya
jika pekerjaannya memang sedang sibuk-sibuknya, Ayah terkadang bisa pulang jam
2 malam, bahkan ada kalanya baru pulang besok paginya. Ibu saya juga bukan
sosok yang selalu berada di rumah sepanjang waktu. Sekitar periode saya SMP /
SMA, beliau melanjutkan pendidikan S1 sambil bekerja. Kuliahnya di malam hari.
Saya ingat Ibu saya pulang kerja sampai di rumah jam 5 sorean. Jam 7 malam
beliau berangkat kuliah dianter Ayah. Jam 10an pulang, kadang-kadang kami
anaknya ikut jemput juga.
Kalau
pengalaman masa kecil, remaja, dan beranjak dewasa saya diukur menggunakan
standar sebagian konten media sosial hari ini, mungkin saya sudah dimasukkan ke
dalam kategori anak Fatherless dan Motherless.
Fatherless merupakan istilah yang di mana
seorang anak hidup hanya bersama dengan ibunya tanpa kehadiran ayah, baik
secara fisik maupun psikologis (Fajriyanti dan Safitri, 2024; Wahyuni dkk,
2023).
Sementara Motherless merujuk
pada kondisi anak dengan kondisi tanpa ibu (Wahyuni dkk, 2023). Geoge dan
Wilding (2023) mengatakan jika Keluarga yang kehilangan Ibu bukanlah fenomena
baru. Sebelum era sensus dan statistik, banyak sumber kontemporer memberikan
bukti tentang tingginya angka kematian Ibu yang umum terjadi di semua kelas
masyarakat. Namun penyebab Motherless-nya lah yang berubah, Geoge dan Wilding
(2023) menyebutkan selain karena peningkatan mobilitas geografis, salah satunya
juga karena Istri yang bekerja, yang artinya lebih sedikit wanita di rumah yang
memiliki energi dan waktu luang.
Di media
sosial, istilah Fatherless dan Motherless bisa menjadi bola
liar karena berupa potongan-potongan tanpa sumber. Kata-kata ini
berubah menjadi label yang sangat mudah ditempelkan kepada siapa saja. Seorang
ayah yang pulang malam karena bekerja dianggap ngga hadir. Seorang ibu yang
berkarier dianggap kurang memberikan kasih sayang. Seolah-olah kehadiran orang
tua hanya dapat diukur dari jumlah jam yang dihabiskan di rumah.
Padahal
kehidupan keluarga jauh lebih rumit daripada potongan video berdurasi satu
menit atau unggahan beberapa slide yang berseliweran di timeline. Saya ngga
sedang mengatakan bahwa semua orang tua yang sibuk pasti berhasil mengasuh anak
dengan baik. Ngga juga mengatakan bahwa konsep Fatherless atau Motherless ngga
memiliki dasar. Banyak anak mengalami luka karena kehilangan figur ayah
atau ibu, baik secara fisik maupun psikologis. Pengalaman mereka itu sangat
nyata. Jika kita membaca/melihat berita, bahkan ada banyak orang diluar sana yang terlalu tidak pantas menjadi orangtua karena kebiadaban diluar nalar yang mereka lakukan. Tapi mengukur kualitas pengasuhan hanya dari intensitas kehadiran fisik
rasanya terlalu sederhana.
Ngga semua
keluarga bisa dimasukkan ke dalam kotak-kotak yang sama. Ada begitu banyak
variasi pengalaman manusia yang ngga dapat dijelaskan hanya dengan satu istilah
populer. Ngga semua orang tua memiliki kemewahan untuk selalu hadir secara
fisik. Ada yang bekerja karena ambisi, ada yang untuk memenuhi gaya hidup, ada
yang bertahan yang penting kebutuhan dasar terpenuhi, ada yang menjadi tulang
punggung bagi keluarga besar. Kondisi sosial itu beragam, bahkan kompleks,
pilihan yang tersedia sering kali bukan pilihan ideal.
Sebenernya
yang lebih saya khawatirkan adalah ketika istilah-istilah tersebut digunakan
secara serampangan. Tau istilah NPD? Dulu hanya Psikiater yang mengeluarkan
diagnosis seseorang mengidap gangguan mental NPD atau tidak. Sekarang? Beda
pendapat, NPD. Beda Haluan, NPD. Beda pilihan, NPD. Hampir semua orang merasa
bisa dan boleh melabeli orang lain dengan NPD.
Pun
istilah Fatherless/Motherless. Anak-anak dan orang dewasa mulai
menilai ulang masa kecilnya hanya berdasarkan konten singkat yang mereka
konsumsi di media sosial. Setiap kesulitan hidup dicari-cari penyebabnya pada
orang tua. Setiap kekurangan dalam diri dianggap bukti bahwa ayah atau ibunya
gagal hadir. Sementara perjuangan, pengorbanan, dan keterbatasan yang pernah
dihadapi orang tua perlahan terlupakan. Media sosial memang pandai
menyederhanakan masalah. Sayangnya, kehidupan nyata ngga sesederhana itu.
Dalam banyak
diskusi di media sosial, seolah-olah kualitas pengasuhan dapat dihitung secara
matematis: berapa jam ayah berada di rumah, berapa jam ibu menemani anak,
berapa kali makan bersama dalam seminggu, berapa kali jalan-jalan dalam
setahun. Padahal manusia tumbuh dengan cara yang kompleks.
Ada satu hal
yang menurut saya sering kali malah luput dari pembahasan mengenai Pendidikan
dan pengasuhan anak, yaitu TELADAN. Pengaruh orang tua ngga hanya
datang dari kuantitas waktu yang mereka habiskan bersama anak, tetapi juga
dari CONTOH yang mereka tunjukkan setiap hari.
Apakah
Koruptor lahir begitu saja? Dalam sehari? Jelas ngga. Integritas dibangun dari
rumah. Dispilin dibangun dari rumah, pun kejujuran. Bahkan hal-hal buruk pun
dibangun dari rumah.
Dulu, yang
saya ingat dari Ayah dan Ibu saya, berangkat bekerja sekitar pukul tujuh pagi.
Hari demi hari. Tahun demi tahun. Pada masa itu belum ada sistem presensi
elektronik, belum ada aplikasi pelacak kehadiran, belum ada budaya membagikan
produktivitas di media sosial. Namun mereka tetap memilih datang tepat waktu.
Mereka tetap menjalankan pekerjaan dengan disiplin karena menganggap pekerjaan
sebagai tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Mereka
berdua ngga pernah duduk di hadapan saya lalu memberikan ceramah panjang
tentang pentingnya disiplin kerja. Mungkin mereka juga ngga pernah menyadari
bahwa saya melihat hal-hal tersebut. Apalagi saya, saya melihatnya sebagai
rutinitas biasa, berulang-ulang selama bertahun-tahun.
Orang-orang
juga mengetahui saya sebagai orang yang suka membaca, suka membeli buku. Apakah
ayah dan ibu saya menyuruh saya membaca? Ngga pernah. Maksa saya buat beli
buku? Sama sekali ngga pernah. Saya hanya melihat mereka membaca. Buku,
majalah, dan Koran. Dulu pun saya melihatnya suatu hal yang biasa, Ayah yang
sedang membaca dan Ibu yang sedang membaca. Ayah dan Ibu saya juga bahkan ngga
menyadari, mereka sendiri yang menanam benih suka membaca di diri saya.
Teladan
memiliki kekuatan yang lebih besar daripada instruksi. Nilainya ternyata
tertanam jauh lebih kuat daripada nasihat yang hanya diucapkan sesekali.
Anak-anak memang mendengar apa yang dikatakan orang tuanya. Namun dalam banyak
hal, mereka jauh lebih memperhatikan apa yang dilakukan orang tuanya.
Bagaimana
orang tua meminta anaknya rajin membaca, tetapi anak sendiri ngga pernah
melihat buku di tangan orang tuanya. Anak mendengar nasihat tentang disiplin,
tapi anak menyaksikan kebiasaan orangtuanya menunda dan terlambat. Anak
mendengar ceramah tentang kejujuran, tapi anak melihat kompromi terhadap
ketidakjujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam
situasi seperti itu, jangankan anak, kita orang dewasa aja bingung jika pesan
sama sikap ngga sinkron. Karena ada dua pesan sekaligus yang diterima: pesan
yang diucapkan dan pesan yang dicontohkan. Dan sering kali, pesan yang
dicontohkanlah yang lebih kuat pengaruhnya.
Karena itu,
ketika membicarakan kehadiran orang tua, saya rasa kita perlu melihatnya dengan
cara yang lebih utuh. Kehadiran bukan hanya soal berada di ruangan yang sama
selama mungkin. Kehadiran juga berarti nilai-nilai apa yang dibawa ke dalam
rumah. Kebiasaan apa yang diperlihatkan. Karakter seperti apa yang dipraktekkan
setiap hari.
Seorang ayah
yang pulang malam karena bekerja mungkin kehilangan beberapa jam bersama
anaknya. Namun jika selama puluhan tahun ia menunjukkan integritas, tanggung
jawab, dan etos kerja yang baik, anak tetap menerima warisan yang sangat
berharga. Seorang ibu yang harus membagi waktunya antara pekerjaan,
pendidikan, dan keluarga mungkin ngga selalu dapat menemani setiap momen
anaknya. Namun ketika anak melihat kegigihan, semangat belajar, dan kesediaan
untuk terus berkembang, ia sedang menyaksikan pelajaran hidup yang ngga dapat
ditemukan di buku mana pun.
Mungkin
itulah sebabnya saya sulit menerima ketika kualitas seorang ayah atau ibu hanya
diukur dari ada atau tidaknya mereka di rumah pada jam tertentu. Karena
pengalaman saya, sebagian pelajaran hidup yang paling membentuk justru ngga
diberikan melalui nasihat. Pelajaran itu hadir dalam bentuk contoh yang
sederhana, diulang setiap hari, dan berlangsung selama bertahun-tahun.
Dalam teori
Social Learning yang dikembangkan Bandura (1984), anak belajar melalui
pengamatan terhadap perilaku orang-orang yang dianggap penting dalam hidupnya.
Karena itu, orang tua sesungguhnya sedang mendidik bahkan ketika mereka ngga
sedang memberi nasihat. Cara mereka bekerja, memperlakukan orang lain,
mengelola emosi, membaca buku, menghargai waktu, atau menjalankan tanggung
jawab sehari-hari menjadi kurikulum diam-diam yang terus diamati anak.
Bandura
(1984), menyebut proses ini sebagai observational learning, yaitu pembelajaran
melalui pengamatan terhadap model perilaku. Dengan kata lain, anak ngga hanya
tumbuh dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dilihat setiap hari.
Bukan
berarti waktu bersama anak ngga penting. Waktu tetap penting. Tetapi waktu
tanpa perhatian, tanpa percakapan, tanpa teladan, sering kali ngga menghasilkan
banyak hal. Yang meninggalkan nilai yang berjejak justru apa yang anak lihat
dan perhatikan ketika orangtuanya shalat tepat waktu, bekerja, belajar,
membaca, dan tanggung jawab lainnya yang dijalani setiap hari.
Sekarang,
setelah saya merasakan menjadi Orangtua dan melihat kembali masa kecil saya. Yang
teringat oleh saya bukan soal jam-jam ketika Ayah dan Ibu saya ngga ada di
rumah, melainkan lelah yang mereka sembunyikan, masalah-masalah yang tidak
mereka perlihatkan, beban didalam dan diluar rumah yang harus mereka tanggung. Semakin
saya menjalani peran sebagai orang tua, semakin saya menyadari betapa besar
pengorbanan mereka agar saya dan adik saya bisa tumbuh dan menikmati kehidupan
yang kami miliki hari ini. Mungkin sebagian orang melihat ketidakhadiran. Saya
melihat pengorbanan. Pengorbanan Ayah dan Ibu saya.
Source :
George, V.,
& Wilding, P. (2023). Motherless families. Routledge.
(Fajriyanti,
A., & Safitri, D. (2024). Fenomena fatherless di Indonesia. The Indonesian
Journal of Social Studies, 7(1), 94-99.)
Wahyuni, S.,
Khumas, A., & Jafar, E. S. (2023). Persepsi tentang pernikahan pada
perempuan dewasa awal yang mengalami fatherless. PESHUM: Jurnal Pendidikan,
Sosial Dan Humaniora, 2(6), 1050-1066.
Li D
and Guo X (2023) The effect of the time parents spend with children on
children's well-being. Front. Psychol. 14:1096128. doi:
10.3389/fpsyg.2023.1096128
Davies GR, McMahon RJ, Flessati EW, Tiedemann GL. Verbal rationales and modeling as adjuncts to a parenting technique for child compliance. Child Dev. 1984 Aug;55(4):1290-8. PMID: 6488957.








.png)
.png)






.jpeg)
