Jeda : Obrolan Dua Gelas Kosong

Baru kali ini saya nge-review Podcast😅 Tapi sebenarnya ini juga bukan review dalam arti yang sesungguhnya. Nulis ulang ini diblog, karena ada beberapa part (walaupun ngga semuanya) yang bikin something like a little bit of relate feeling.

Pun saya ngga menekan tombol play Podcast ini dengan niat mencari jawaban apa pun. Pas aja muncul di fyp youtube, eh ada Mba Dian di Channel Bang Radit, cukup buat saya nge-klik dan nonton sampai habis. Ngga nyangka, obrolan Bang Radit dan Mba Dian ini malah membuka ruang di kepala saya yang selalu penuh dan berisik.

Salah satu Podcast Bang Radit yang kerasa bedanya, karena hampir ngga ada jokes, ngga ada usaha mencairkan suasana, Bang Radit hampir sepenuhnya hadir sebagai pendengar. Percakapannya berasa rapat dan niat banget. Ngga ada ruang kosong, ngga ada bagian yang terasa bisa dilewati sambil setengah sadar. Beberapa part bahkan harus saya ulang karena cara ngomong Mba Dian yang cepet. Nge-lag dikit lewat.

Yang menarik lagi, percakapan mereka ngga selalu berjalan searah atau saling menyambung secara topik. Namun justru di situlah kualitas obrolan ini terlihat. Keduanya cermat menangkap lalu menanggapi setiap pilihan kata yang muncul, peka membaca respon, dan bisa ngikutin irama satu sama lain. Dengan kepekaan itu, obrolan tetap terasa hidup dan mengalir, meskipun arah pembicaraan berpindah.

Di satu bagian, Mba Dian berbicara tentang apa yang ditakutkannya: kehilangan meaning. Kehilangan makna. Sampai akhirnya hidup terasa membosankan. Intinya ketika kamu melakukan sesuatu dalam hidup dan terkungkung dalam cara hidup yang sistemnya sudah seperti itu. Saat kamu memasukkan diri kamu ke dalam sistem itu, kamu sudah jadi ngga natural lagi. Padahal dulunya ketika kamu hanya sebagai makhluk natural dari alam, you just being you. Tapi ketika sudah dikotak-kotakkan oleh sistem, kamu jadi ngga natural lagi dan jadi sangat depresif. Apapun yang kamu lakukan menjadi salah karena kamu memandang diri kamu dengan sistem yang salah. Kurang lebih begitu yang saya tangkap. CMIIW.

Bagian ini cukup mengena buat saya. Mungkin aja kebingungan dan kegelisahan yang selama ini saya rasakan punya akar yang serupa. Kemudian, mungkin juga saya sedang berada di suatu ambang. Seperti memasuki babak baru dalam hidup, hanya saja mungkin belum tahu bentuknya apa, belum ketemu jalurnya lewat mana, ataupun bagaimana cara memulainya.

Hal lain yang saya pelajari dari obrolan mereka adalah cara mereka berdialog. Mereka datang dengan posisi yang sama: gelas kosong. Tidak saling menonjolkan isi kepala, tapi membuka ruang untuk diisi satu sama lain. Obrolan seperti ini terasa hidup, jujur, dan menyenangkan. Dan tanpa terasa, saya sebagai pendengar ikut membawa pulang sesuatu. That’s why kayaknya perlu saya catat ulang di blog. Seru banget pasti ya punya lawan bicara seperti itu.

Bonus, di Podcast ini saya dapet rekomendasi Channel Youtube baru yang langsung saya subscribe saat itu juga😄: Channel Prof. Scott Galloway dan Channel Predictive History (Prof. Jiang.) Obrolan mereka juga mengingatkan saya, sekecil apa pun, setiap hari, kita harus belajar sesuatu untuk menambah value pada diri sendiri. Mereka berdua ini berdialog sambil nyatet juga loh, secara harfiah beneran nyatet🙌

Overall, Podcast ini ngga memberi saya jawaban yang utuh atau solusi yang langsung bisa dipakai. Mungkin memang bukan itu fungsinya. Tapi cukup untuk memberi ruang jeda, pengingat, dan menata ulang pikiran.

2026 mau ngapain?

Kalo ditanya mau ngapain di tahun 2026? Singkatnya sih ngga tau😅 :") Bukan karena ngga punya keinginan. Sebaliknya, ada banyak hal yang ingin diwujudkan. Ada rencana-rencana yang dulu rasanya masuk akal, bahkan rasanya sangat mungkin. Tapi hidup, kadang ngga semua yang kita mau bisa kita pegang erat-erat. Ada yang harus dilepas, ada yang harus ditunda, ada juga yang harus diterima apa adanya.

Masalahnya. Saya sendiri belum sepenuhnya tau ada di fase mana. Apa saya masih sanggup berjuang buat memenangkan keinginan, atau memang sudah waktunya mengalah atau berhenti. Ini kayak lagi ada di fase aneh gitu, sulit dijabarkan😅Di satu sisi masih ingin fighting, masih ada lah setitik kobar kecil yang bilang “coba”. Mungkin ini sisa-sisa semangat 😅 Di sisi lain, ada sisi yang bilang “sudah cukup”. Antara berharap dan menerima. Antara ngeyel dan realistis. Jadi belum sepenuhnya paham juga harus berdiri di mana.

Ketika menghadapi dunia diluar rumah pun, ternyata niat baik saja ngga selalu cukup. Semangat saja juga ngga otomatis bikin semua masalah bisa diatasi. Kadang sudah berusaha, tapi tetap saja terbentur. Kadang sudah ingin memberi yang terbaik, tapi realitas punya caranya sendiri untuk bilang: ngga sesederhana itu ya sist. Dan rasanya makin runyam ketika kita lagi merasa lost dan harus berjuang sendirian.

Sebenernya saya tau, tapi seringnya lupa, hidup ngga selalu butuh jawaban cepat. Manusia itu dengan prosesnya masing-masing. Ada fase-fase yang memang isinya cuma pertanyaan. Masih meraba-raba, masih salah langkah, masih sering ragu sama keputusan sendiri. Lalu terlalu keras sama diri sendiri. Terlalu sering ngerasa harus “sudah sampai”, padahal mungkin masih di tengah jalan. Atau bahkan masih nyari jalannya. Padahal bertahan sejauh ini aja sebenernya sudah butuh tenaga yang ngga sedikit.

Saya juga sering lupa total kalau hidup bukan cuma soal berani bermimpi, tapi juga tentang sanggup menanggung konsekuensinya. Ngga semua keinginan layak dikejar mati-matian. Ngga semua orang layak menerima kepedulian kita. Saya diingatkan lagi dengan satu hal yang sebenernya sudah lama saya tau, tapi entah kenapa sering terlupakan: tentang memenuhi ekspektasi. Ekspektasi orang lain. Ekspektasi lingkungan. Dan yang paling berat, ekspektasi diri sendiri.

Saya ingin jujur mengakui: saya lagi capek dan bosan. Valid.

Kalau ditarik ke belakang sebentar, sebenernya 2025 juga bukan tahun yang kosong-kosong amat.

Di 2025, saya berhasil menyelesaikan dan lulus S2, setelah menjalaninya dengan kehamilan, pendarahan, melahirkan, menyusui dan SEGALANYA wkwk 😅 Sudah pernah saya ceritain di SINI. Bukan perjalanan yang mulus, tapi selesai juga.

Di tahun yang sama, saya juga mulai belajar mengurangi satu sifat yang pelan-pelan melelahkan diri sendiri: terlalu peduli. Bukan jadi cuek, tapi lebih selektif. Lebih sadar kalau ngga semua hal harus saya urusi, ngga semua orang pantas saya pedulikan, dan ngga semua masalah orang lain wajib saya pikul.

Dalam urusan kerja pun, tahun 2025 kemarin, saya mulai belajar merapikan fokus lagi. Dulu agak ke mana-mana, sempat terpecah ke banyak hal, dan bukan tanpa alasan juga. Sebagian karena proses S2 yang menguras emosi dan tenaga, sebagian lagi karena kebiasaan terlalu peduli yang bikin energi habis duluan. Belum sempurna, tapi yah minimal sudah memulai dan berjalan.

Urusan dengan orang-orang pun, pelan-pelan—atau mungkin tanpa saya sadari—saya mulai mengambil langkah mirroring. Peduli pada yang peduli. Tidak lagi menawarkan pada yang pernah menolak. Memberi fast response pada mereka yang memang terbiasa merespons cepat. Sementara untuk yang slow response, tetap dibalas, tapi menyesuaikan kondisi, ngga jadi prioritas.

Lebih ke upaya menjaga energi dan perasaan sendiri. Saya mulai sadar, memberi perhatian secara berlebihan pada orang yang tidak berada di frekuensi yang sama sering kali hanya berujung lelah. Bukan salah siapa-siapa, mungkin karena ritme nya aja yang beda.

Mirroring ini jadi cara saya sekarang untuk tetap berhubungan tanpa mengorbankan diri sendiri. Tetap sopan, tetap responsif, tapi dengan batas yang lebih jelas. Saya tidak lagi memaksakan kedekatan, tidak juga menarik diri sepenuhnya. Cukup menyesuaikan porsi.

Mungkin ini bagian dari proses belajar dewasa: memahami bahwa tidak semua relasi perlu dikejar, dan tidak semua jarak perlu dipermasalahkan. Ada orang yang hadir penuh, ada yang datang sesekali, dan itu nggapapa kayanya sekarang buat saya. Dengan begitu, saya bisa tetap ada untuk orang lain, tanpa lupa menjaga diri sendiri.

Ya gitulah, hidup😅Isinya “kadang-kadang”. Kadang-kadang sadar, kadang-kadang denial. Kadang-kadang semangat, kadang-kadang meredup. Kadang-kadang aman damai, kadang-kadang pengen sleding kepala orang 😅

Jadi mungkin 2026 bukan soal jadi siapa, mencapai apa, atau membuktikan apa ke siapa. Tapi soal menjaga diri tetap utuh. Tetap waras. Tetap punya ruang buat bernapas. Tetap bisa jujur bilang capek tanpa merasa gagal atau judgement ngga bersyukur. Ngga buru-buru nyalahin. Ngga langsung merasa kurang. Karena hidup ternyata nggak cuma tentang hasil akhir, tapi juga tentang bagaimana kita bertahan di proses yang panjang dan ngga selalu jelas arahnya.

Semoga di 2026 ini, saya bisa lebih ramah sama diri sendiri.

Comfortable Silence : Diam dengan Nyaman

Dalam banyak konteks sosial, kenyamanan sering diidentikkan dengan kelancaran komunikasi verbal. Rasa “nyaman” dalam hubungan sosial buat sebagian orang adalah ketika ngobrol terasa nyaman dan sefrekuensi. “Kalau ngobrolnya nyambung, berarti cocok.” Begitu logika umum yang sering kita dengar. Dan ngga salah. Itu juga memang salah satu yang membuat kita nyaman dalam hubungan dengan pasangan, persaudaraan, pertemanan, ataupun lingkungan sosial lainnya. 

Tapi bagi saya pribadi, tingkat hubungan sosial yang paling nyaman adalah ketika saya bisa diam bersama seseorang (ataupun dalam suatu lingkungan), tanpa merasa canggung, ngga ada topik yang harus dicari-cari. Bisa diam tanpa cemas atau tanpa merasa perlu “menghibur” orang lain dengan percakapan. 

Dan ternyata, perasaan satu ini bukan “feeling personal”. Dalam sosiologi, psikologi, hingga studi komunikasi, konsep ini sudah dibahas dan memiliki istilahnya sendiri. I’m just a regular normal overthinker. Yah, akhirnya saya punya validasi soal ini wkwk😅

Baru-baru ini saya kenalan dengan istilah Comfortable Silence (Keheningan yang nyaman), kebalikan dari uncomfortable silence yang menghasilkan awkward momentsComfortable Silence adalah kondisi saat dua/lebih individu dapat berbagi keheningan tanpa merasa canggung, tanpa terancam secara emosional, atau tanpa merasa harus “membuktikan” keberadaannya melalui interaksi verbal.

Sosiolog Erving Goffman menyebutkan bahwa dalam interaksi sosial, orang biasanya melakukan self-presentation (menciptakan citra). Jika dua orang bisa diam bersama tanpa canggung, artinya tuntutan untuk mengelola citra itu menurun.

Self-presentation theory explains how individuals use verbal and non-verbal cues to project a particular image in society (Goffman, 1959). The theory draws on dramaturgy metaphors, such as backstage and frontstage, as a lens to explore human behaviour in everyday life (Goffman, 1959). (https://open.ncl.ac.uk/)

Kita seperti pemain teater yang terus berada di “frontstage,” menjaga impresi, memikirkan harus bilang apa, dan bagaimana terlihat di mata orang lain. Nah, ketika dua atau lebih individu bisa diam bersama tanpa canggung, itu tanda bahwa “panggungnya” sudah berubah. Kita sudah berada di backstage, tempat dimana topeng sosial sudah dilepas.

Kenyamanan dalam diam ini bukan hanya soal psikologi personal, tapi juga mencerminkan kualitas relasi sosial. Ada namanya konsep low-maintenance relationship. Hubungan atau interakasi yang ngga perlu energi besar. Jenis hubungan ini biasanya muncul saat individu yang berinteraksi sudah melewati fase frontstage yang penuh performa sosial, dan masuk ke fase backstage. Kalo pinjem istilah dari Goffman untuk menggambarkan wilayah di mana individu dapat menjadi dirinya sendiri tanpa “pertunjukan sosial”.

“Nonverbal behavior often communicates more intimacy than verbal communication.” (Burgoon, 1994)

Tapiii, ini ngga melulu soal performa sosial. Kan kita juga ngga mungkin deket sama semua orang. Diri kita sendiri pasti punya boundaries, batas-batas diri yang tercipta secara sadar maupun tidak sadar melalui pengalaman, prinsip hidup, ataupun kebiasaan. Comfortable Silence juga bisa terkait dengan kebutuhan Ruang Personal (Personal Space) seseorang dan regulasi Social Energy yang dimilikinya. 

Ruang pribadi (personal space) sendiri didefinisikan sebagai gelembung ruang psikologis yang mengelilingi seseorang. Manusia cenderung untuk mempertahankan jarak minimum yang paling disukai apabila berinteraksi dengan orang lain (Hanurawan, 2024).

Social energy merujuk pada energi emosional dan psikologis yang digunakan saat kita berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukanlah energi fisik yang terukur seperti dalam kegiatan olahraga, tetapi lebih merupakan keadaan mental dan emosional kita ketika berada dalam interaksi sosial. (https://psikologkakgun.com/)

Terutama bagi orang yang memiliki kecenderungan introverted intuition atau highly sensitive person, kehadiran yang tenang lebih bermakna daripada percakapan yang ramai (tsah~😎). By the way I’m an INFJ.

Mungkin itu sebabnya, ada sebagian diantara kita (termasuk saya) merasa bonding paling kuat terjadi bukan saat ngobrol panjang lebar. Justru muncul pada momen-momen sederhana, seperti ketika bekerja bareng di café, but in silence and focus, atau saat naik motor boncengan, menikmati angin dan pemandangan tanpa perlu bertukar kata. Sebenernya dua contoh kegiatan tadi adalah saya sama Suami ðŸ˜„ Kedengeran aneh ya, ngga ngobrol, tapi rasanya dekat. Tapi kadang boncengan sambil menikmati perjalanan bisa terasa lebih dekat daripada obrolan berjam-jam.

In my defense, itu bukan minim komunikasi, tapi komunikasi versi tenang. Mungkin karena contoh Comfortable Silence ini saya alami dengan Suami, saya jadi paham bahwa kami sudah melewati masa frontstage (minjem istilah Goffman). Kami sudah nggak perlu tampil atau mengelola kesan lagi. Kami sudah sampai di ruang diri kami versi asli, ruang yang disebut Goffman sebagai backstage. Dan mungkin, Comfortable Silence itu adalah tanda bahwa kita sudah diizinkan masuk ke wilayah paling asli dari seseorang.

Tapi ini bukan berarti saya ngga nyaman ngobrol😅Cuma kenyamanan menurut saya ada levelnya mungkin ya. Mostly, saya bisa ngobrol dengan siapa saja dengan nyaman, but at the average level. Bahkan walaupun ngobrol dengan yang bukan satu divisi (misalnya), atau mungkin ketemu di jalan, ya ngobrol aja. Hanya saja pada konteks "ngobrol", ketika saya sudah nyaman dengan teman ataupun lingkungan, maka deep talk adalah level ternyaman saya. Actually I prefer to have deep conversation or quietness than small talk.

Buat saya, menemukan orang yang bisa diajak ngobrol dengan nyaman dan nyambung itu relatif mudah. Selalu ada teman atau lingkungan yang “klik” secara obrolan, topiknya ngalir, humornya cocok, energinya pas. 

Tapi menemukan seseorang, atau lingkungan, yang tetap terasa nyaman justru saat kita nggak pengen ngomong apa-apa, cuma pengen diam, tapi tetap merasa it's fine not to be fine, itu jauh lebih susah.

Karena kita hidup di dunia yang bising, penuh notifikasi, tuntutan sosial untuk selalu “ada”. Onlineupdatereply. Terus terhubung, tapi sering kali tidak benar-benar nyambung. Jadi di dunia yang seramai ini, kalau ketemu teman atau lingkungan yang didalamnya kita bisa diam dengan nyaman, it's a treasure.

Reply 1988 : Dialog Realita dan Romantika

Kalau The Lord of The Rings adalah satu-satunya Film yang saya tonton berulang kali, tapi kalo untuk Drama, titel tersebut jatuh pada Drama berjudul Reply 1988 (2015). Reply 1988 adalah Drama Korea bertema keluarga yang mengisahkan kehidupan lima keluarga bertetangga di lingkungan Ssangmun-dong, Seoul, dengan berlatar tahun 1988. Drama ini berfokus pada persahabatan erat antara lima orang sahabat yang terdiri dari Sung Deok Sun, Choi Taek, Kim Jung Hwan, Sung Sun Woo, dan Ryu Dong Ryong. 

Yang membuat saya sangat suka dengan drama ini karena ceritanya yang relatable, ngga berat, tapi punya emotional impact. Drama ini berhasil menyajikan cerita dengan permasalahan-permasalahan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pun setiap karakter diperankan dengan sangat kuat oleh masing-masing pemerannya. Alasan lainnya, karena nuansa 80’an dan 90’an nya yang saya sukai, sederhana dan hangat. I love that kind of vibes.

Kalo memorable scenes banyak, tapi ada satu scene di episode 10 yang kayanya lumayan relate dengan topik obrolan saya dengan pak suami akhir-akhir ini : keuangan dan masa depan anak ðŸ˜… But later ya, saya mau cerita-cerita dramanya dulu.

Jadi back to the scene, ceritanya di scene ini Dong Ryong kabur dari rumah karena merasa ngga diperhatikan sama orangtuanya (Bapaknya Guru, Ibunya Pegawai Asuransi). Singkat cerita, Dong Ryong kemudian dijemput pake mobil oleh sahabat-sahabatnya dan yang nyupirin Kakak perempuan Deok Sun yang galak banget tapi baik hati, namanya Sung Bora. 

Ketika sudah sampai di rumah, si Dong Ryong ngga mau turun-turun dari mobil karena takut kena marah orangtuanya. Akhirnya Bora yang udah suntuk banget sambil kesel nasehatin si Dong Ryong untuk melihat dirinya sendiri. Bagaimana dia masih beruntung dibanding sahabatnya yang lain (yang emang susah banget), karena masih bisa makan enak, punya sepatu dan baju bagus, duit ngga susah minta, dan punya kamar sendiri. Bora bilang, 

"Anak yang sudah seusiamu itu lebih enak punya orangtua berduit

ketimbang orang tua yang ada disisimu."

Dilain pihak, kondisi Dong Ryong pada saat itu memang sedang berada pada fase paling rendah, dimana dia merasa tidak diperhatikan karena jarang ketemu dengan orang tuanya yang sibuk bekerja. Dan pada satu titik, waktu itu adalah momen ulang tahunnya, kedua orangtuanya lupa, makin-makin dia merasa sendiri dan ngga diperhatikan lalu memutuskan untuk kabur dari rumah.

Sementara di sisi Bora sendiri, kenapa dia sampai bisa ngomong kaya gitu, karena dia membandingkan dengan kondisi hidupnya sendiri. Bora tahu rasanya hidup kekurangan. Bora dan Saudarinya Deok Sun harus rela berbagi kamar, berbagi makanan, pakai pakaian lungsuran, bahkan tinggal di basement sempit rumah orang, berlima bersama Ayah, Ibu, dan Adik laki-laki mereka No Eul. Ayahnya ditipu sehingga Ibunya yang seorang Ibu Rumah Tangga harus pintar-pintar membagi gaji Ayahnya yang juga sudah dipotong utang.

Belum lagi pada masa itu (era 1980an), baik secara ekonomi, sosial dan politik, kondisi Korea Selatan sedang tidak stabil. Korea Selatan sedang mengalami masa transisi menuju sistem demokrasi. Salah satu momentum penting yang terjadi pada masa itu adalah Olimpiade Seoul 1988. Meskipun Korea Selatan sedang bersiap menunjukkan wajah modernnya kepada dunia, gejolak di dalam negeri belum mereda. Demonstrasi demi demonstrasi terus terjadi sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan dan tuntutan reformasi. Kondisi sosial-politik tersebut turut diangkat dalam drama ini. Mungkin ada 2 atau 3 scenes yang menampilkan suasana demonstrasi menjelang pelaksanaan Olimpiade Seoul 1988, dimana scenes ini sedikit memberi gambaran mengenai ketegangan sosial yang mewarnai kehidupan masyarakat Korea pada masa itu.

Jadi walaupun drama ini temanya adalah keluarga dan persahabatan, tapi didalamnya juga terdapat unsur sejarah dengan menampilkan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa pada tahun 1988. Karakter Bora sendiri digambarkan sebagai seorang aktivis yang menjadi representasi dari semangat perlawanan pada masa itu. 

Dari sebatas scene ini mungkin kita akan menilai permasalahan Dong Ryong sebenarnya tidak seberapa dibanding masalah Bora, Deok Sun, ataupun Sun Woo. Namun scene ini menunjukkan bahwa titik krisis orang itu berbeda-beda, ternyata setiap orang membawa lukanya masing-masing. Dong Ryong yang merasa diabaikan atau Bora yang hidup dalam keterbatasan. Keduanya terluka, tapi dari sudut yang berbeda. Ini mengingatkan kita bahwa setiap orang punya perjuangannya masing-masing yang ngga selalu bisa kita lihat dari luar.

Dong Ryong tidak kekurangan secara materi, tapi ia merasa kosong karena orang tuanya nyaris tak pernah hadir secara emosional. Menjadi reminder buat saya sebagai orangtua, bahwa kehadiran itu ngga kalah penting dari sekedar "mencukupi". Orangtua nggak harus sempurna, tapi hadir itu penting, bahkan walaupun kehadiran itu hanya berwujud perhatian sederhana.

Scene ini juga ngingetin kita bahwa seringkali kita hanya melihat apa yang kurang, tanpa menyadari apa yang masih kita punya. Bora dengan tegas mengingatkan bahwa dibanding orang lain, Dong Ryong masih punya banyak hal yang layak disyukuri. Our Prophet Muhammad ï·º reminded us :

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Itulah yang lebih pantas. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.”

(HR. Muslim, no. 2963)

Menjadi orang tua adalah tentang hadir. Secara fisik dan emosional. Bukan dalam artian hadir secara fisik 24 jam ya. Anak ketika menginjak usia tertentu juga udah ngga bakal mau ditemenin orang tuanya kemana-mana. Mereka suatu saat juga akan punya dunia sendiri. Hadir juga saya artikan sebagai menjadi teladan.

Di sisi lain, pada realitanya, menjadi orangtua juga berhubungan dengan tanggung jawab finansial untuk memenuhi hak-hak anak, dari kebutuhan dasar, kesehatan, pendidikan bahkan hingga biaya pernikahan. Ini yang menjadi bahan diskusi saya dan suami belakangan ini. Suatu saat, entah kapan, saya bilang ke suami, kami harus mempertimbangkan suatu pilihan yang sulit, yaitu untuk kembali merantau dan meng-upgrade pendidikan. Karena resiko menetap adalah stagnansi skill dan finansial. Bukan soal ambisi, tapi karena ingin bertumbuh, demi anak-anak kami, dan demi menjaga agar kami tetap bisa memenuhi peran kami sebagai orang tua secara utuh, termasuk secara finansial.

Kondisi finansial yang stagnan tidak akan membawa kami jauh. Apalagi kami punya prinsip untuk sebisa mungkin menghindari utang dalam bentuk apa pun jika tidak ada kedaruratan. Hingga kini untuk setiap kebutuhan dengan nominal yang besar, kami memilih menabung terlebih dahulu, meski butuh waktu lebih lama. Namun, cara hidup seperti ini tentu menuntut stabilitas dan pertumbuhan finansial yang cukup, bukan yang jalan di tempat.

Saya ingin memastikan bahwa ketika anak-anak kami tumbuh besar nanti, mereka ngga memikul beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab kami. Terutama anak sulung, yang sering kali tanpa sadar dihadapkan pada tanggung jawab yang bukan miliknya. Saya ngga ingin anak sulung kami kelak harus memikul biaya adik-adiknya karena kami alpa dan lalai dalam mengatur keuangan kami sendiri. Tanggung jawab itu seharusnya milik kami, bukan warisan yang dibebankan kepada mereka.

Karena buat saya, yang memutuskan memiliki anak adalah kami sendiri, yang pengen menambah anak juga kami sendiri. Maka sudah seharusnya kami bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kami itu. Saya ngga ingin anak-anak saya nanti memikul sisa beban yang ngga mereka pilih. Saya ingin berjuang hari ini, agar mereka ngga harus menanggung "estafet beban" di kemudian hari.

Saya sadar banget kami berdua sebagai orangtua nggak bisa mempersiapkan segalanya dengan sempurna, mengingat seabrek kekurangan yang ada di diri kami. Jadi sebelum meminta anak-anak kami mandiri, terlebih dahulu kami harus berjuang dan bertanggung jawab dengan pilihan kami sendiri.

Pada akhirnya, menjadi orang tua adalah proses belajar yang panjang. Menjadi orangtua bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang terus belajar, hadir, dan berusaha memenuhi tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

"Saat kakakmu lahir, kami khawatir bagaimana mengajarinya. Saat kau lahir, kami khawatir bagaimana membesarkanmu. Dan saat adikmu lahir, kami khawatir bagaimana menjadikannya orang baik. Para Ayah tidak secara otomatis menjadi Ayah saat anaknya lahir. Ini pertama kalinya aku menjadi Ayah, jadi... tolong beri kami kelonggaran."

(Sung Dong-Il, Reply 1988, episode 1) 


Seorang Teman Seperti Samwise Gamgee

Beberapa hari ini maraton nonton Trilogi The Lord of the Rings (The Fellowship of The Ring, The Two Towers, dan The Return of The King). Dari semua film yang pernah saya tonton, The Lord of the Rings adalah satu-satunya trilogi yang sering saya tonton ulang. Mungkin karena saya penggemar bukunya, juga penulisnya (J.R.R. Tolkien). Bayangkan saja, seseorang mampu menciptakan sebuah dunia baru yang kompleks lewat tulisan, bahkan sampai menciptakan beberapa bahasa. Fyi, Tolkien menciptakan kurang lebih 15 bahasa fiksi (bahasa elf, bahasa dwarves, bahasa orc, bahasa entish, bahasa mordor, bahasa mannish, dan bahasa valarin). It really blows my mind. Only a genius can do that.

Tapi bukan hanya karena itu. Saya juga terkesan oleh nilai-nilai yang dibungkus begitu indah dibalik petualangan para tokohnya. Film ini tidak hanya epik dari segi cerita dan visual, tapi juga menyentuh dari sisi emosional dan moral. Saya rasa karena buku ini ditulis Tolkien berdasarkan pengalamannya sendiri pada Perang Dunia I (1914). Konon, bahkan ada yang menganggap kisah di buku ini seperti kisah peperangan akhir zaman karena narasinya yang mirip.

Ada banyak memorable scenes dalam film ini, salah satunya adalah adegan peperangan antara Pasukan Gondor dan Pasukan Sauron di Kota Osgiliath (The Two Towers). Adegan yang tidak hanya menguras emosi, tetapi juga menyentuh nilai-nilai terdalam tentang harapan, persahabatan, dan perjuangan. Saat itu, Frodo nyaris tak sanggup melanjutkan perjalanan ke Mordor. Kekuatan jahat dari cincin Sauron yang ia bawa perlahan menggerogoti kewarasannya, membuat Frodo nyaris melakukan hal yang tak pernah ia bayangkan: Frodo hampir membunuh sahabatnya sendiri, Samwise Gamgee. Untungnya, Frodo tersadar sebelum semuanya terlambat. Namun hal itu membuatnya begitu terguncang dan putus asa. Dalam keterpurukannya, ia berkata dengan sedih, "Aku tak bisa melakukan ini, Sam."

Dan kemudian sambil menangis, Sam menjawab:

"Aku tahu. Semua ini salah. Seharusnya kita tak berada disini. Tapi kita disini."

Sam melanjutkan perkataannya lagi :

"Ini seperti dalam kisah-kisah hebat, Tuan Frodo. Kisah yang sungguh penting. Penuh dengan kegelapan dan bahaya. Terkadang kau tak ingin tau akhir ceritanya. Karena bagaimana mungkin akan berakhir bahagia? Bagaimana mungkin dunia akan kembali seperti sediakala saat banyak hal buruk terjadi. Tapi pada akhirnya, hal itu hanya sesuatu yang melintas, bayangan ini, bahkan kegelapan sekalipun pasti berlalu. Hari baru akan datang. Ketika mentari bersinar, cahayanya akan lebih terang. Kisah-kisah yang selalu kau ingat itulah yang memiliki hikmah. Meskipun kau terlalu kecil untuk memahami alasannya. Tapi kurasa Tuan Frodo, aku rasa aku paham. Kini aku tahu. Tokoh-tokoh dalam kisah itu punya banyak kesempatan untuk kembali, hanya saja mereka tidak melakukannya. Mereka terus maju, karena mereka meyakini sesuatu."

Didalam keputusasaannya Frodo bertanya pada Sam:

"Apa yang kita yakini, Sam?"

Dan Sam menjawab :

"Bahwa masih ada hal-hal baik di dunia ini, Tuan Frodo.

Dan hal itu layak diperjuangkan."

 

(Image source : quora.com)

Yang membuat adegan ini begitu kuat bukan saja karena kejujuran emosi yang dihadirkan, serta terlihatnya sisi yang sangat manusiawi (seperti keraguan, kelelahan, ketakutan, harapan), tapi adegan ini juga somehow relate dengan kondisi dunia kita sekarang. Betapa disisi lain dunia sudah kacau, sangat gelap, dan sangat kejam namun diisi oleh orang-orang yang tetap kokoh berjuang dalam keyakinannya. Dan disisi dunia yang lain, lebih-lebih kacaunya, hanya saja terisi oleh orang-orang yang terlena. Yang ngga sadar betapa dekatnya kehancuran di depan mata. Tapi kembali lagi, adegan ini memiliki poin penting yang mengingatkan kita bahwa di tengah semua kekacauan itu, masih ada hal-hal baik yang patut diperjuangkan. Masih ada kebaikan, meski kecil. Masih ada keberanian. Masih ada harapan.

Dalam hidup, sudah pasti kan ya ada beban yang harus kita pikul, entah itu luka masa lalu, kegagalan, tekanan hidup, atau situasi yang membuat kita merasa kecil dan ngga berdaya. Ada saat-saat dimana kita mau nyerah aja, hidup gagal banget, menyentuh fase terendah. Dan garis bawahi titik rendah tiap orang itu berbeda-beda, so let it be. Tapi di titik-titik terendah itu, kisah Sam menjadi penting. Kisah si Sam ini nunjukin bahwa kekuatan bukan cuma milik mereka yang terlihat hebat. Kadang, justru yang paling kuat adalah mereka yang diam-diam bertahan. Yang milih tetap percaya, yang tidak pernah pergi meskipun tidak diminta untuk tinggal. Mereka yang mungkin tak pernah disebut sebagai pahlawan, tapi tanpanya, cerita ngga akan pernah sampai di titik akhir.

Di perjalanan mereka selanjutnya menuju Mordor, Sam berjalan dibelakang Frodo sambil menceritakan tentang kehebatan Frodo dalam petualangan mereka ini, namun Frodo menoleh dan memandang Sam dengan sedih, kemudian berkata :

"Kau melewatkan salah satu tokoh utamanya. Samwise Sang Pemberani. Frodo tak akan pernah mencapai sejauh ini tanpa Sam."

Begitulah dalam perjalanan, kadang ngga selalu kita yang menjadi pahlawan utama. Terkadang, seperti Frodo, kita hanya bisa terus berjalan karena ada "Sam" di sisi kita, mereka yang diam-diam menopang, menguatkan, dan tak pernah menyerah pada kita, bahkan saat kita menyerah pada diri sendiri. Dan mungkin, dalam hidup ini, kita tidak selalu tahu peran kita. Kita tak selalu jadi Frodo, atau Aragorn, atau Gandalf. Tapi mungkin, ada saat kita pernah menjadi Sam bagi seseorang. Atau mungkin, seseorang pernah menjadi Sam bagi kita. Yang paling penting lagi, bahwa harapan itu nyata, bahwa kebaikan, sekecil apa pun, adalah sesuatu yang selalu layak untuk diperjuangkan.

Kisah si Sam juga mengingatkan kita bagaimana seorang teman bisa sangat mempengaruhi terhadap bagaimana kita bersikap, merasakan, berpikir, bahkan mengambil keputusan. I think that's why our Prophet Muhammad ï·º warned us to be careful in choosing friends. 

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Di akhir cerita, bisa jadi kita sendiri bukan lagi orang yang sama seperti diri kita di awal cerita, dan itu tidak apa-apa.

Ruang suntuk, 15 Juni 2025

TTD 

Si-Paling-Pengen-Nyerah-Tapi-Ngga-Nyerah2



When Life Gives You Banana and Lemon (My Magister Journey)

 

Alhamdulillah, akhirnya perjuangan menyelesaikan pendidikan S2 ini tuntas juga. I AM so overwhelmed. Karena perjuangan mencapai sampai garis akhirnya dilalui dengan perjalanan berdarah-darah. Berdarah-darahnya bener-bener secara harfiah ya, bukan majas😅 

Awal masuk kuliah semester 1, saya sedang hamil trimester pertama. Belum sempat adaptasi dengan ritme kuliah, saya sudah harus bedrest karena pendarahan. Kehamilan si bungsu ini dilengkapi dengan ngga nafsu makan sampai usia kandungan 5 bulan yang menghasilkan kelemasan tiada tara, mata cekung, berat badan turun drastis. Bayangin coba, masuk usia 4 bulan kehamilan berat badan bukannya naik, malah turun drastis, sampai ngga tau mau melambaikan bendera putih ke arah mana. Di kehamilan ini, saya benar-benar belajar bahwa nafsu makan itu nikmat yang sering banget kita remehkan. Punya selera makan ternyata anugerah luar biasa, baru sadar setelah mengalami, ya Allah T.T

Memasuki semester 2, kehamilan saya mulai membesar, kondisi fisik juga semakin menurun, sampai akhirnya saya sempet harus bedrest lagi karena keluar flek-flek. Menurut spog letak plasenta saya terlalu rendah, kemungkinan akibat kelelahan. Sejujurnya, sejak awal semester 1 saya sudah pasrah dengan kuliah saya, pun dengan kehamilan saya. Apa pun yang terjadi, saya sudah menyiapkan hati untuk mengikhlaskan. Tapi Alhamdulillah, menjelang akhir semester 2, saya melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat dan lucu melalui operasi caesar dan kegiatan kuliah semester ini juga berhasil saya lewati. Momen kelahirannya bertepatan dengan masa UAS dan nyaris mendekati hari Lebaran.

Jadi, setelah lahiran, begitu bisa duduk setelah operasi, luka di perut masih nyut2an sakit banget,  langsung buka laptop ngerjain UAS, wkwk ya ampun gini amat idup gw ya. Dokter yang datang mau kontrol sampe komen, “Wah kayaknya ini udah sembuh Bu. Udah bisa pulang, orang udah kerja buka laptop😅” Padahal lagi ngerjain tugas. Mau ngeluh tapi pilihan sendiri T.T

Semester 3, saya menjalani kuliah dengan bayi newborn. Begadang, menyusui, pumping, bahkan sempat mengalami mastitis. Kadang ada momen nanya2 dalam hati, "kemarin2 kesambet apa sih mau kuliah lagi". Rasanya pengen nyerah, karena memang dari segi fisik pun saya sudah terkuras, phisically drained, emotionally worn-out. Tapi ternyata, masa itu pun tanpa sadar bisa saya lewati. Mungkin bukan karena saya kuat, tapi karena Allah terus menguatkan.

Seorang dosen saya pernah berkata, "Kalau kita merasa lelah, coba kembali ke awal. Periksa lagi niat kita, tujuan kita, dan dan coba perbaiki kembali niat kita." Kalimat sederhana itu masih terpatri kuat dalam ingatan saya hingga sekarang. Saat kita merasa letih di tengah perjalanan, sering kali yang kita butuhkan bukanlah berhenti, tapi mengingat kembali alasan kita memulai. Dengan kembali ke titik awal, menyadari niat dan tujuan kita, kita bisa menemukan kembali semangat yang sempat surut. Langkah yang tadinya berat, perlahan jadi lebih ringan karena kembali mengingat apa tujuan kita dan kenapa kita memilih pilihan tersebut.

Ada satu lagi kalimat dari dosen saya yang sampai sekarang juga masih membekas dalam ingatan: "Time will tell." Akan selalu ada orang-orang yang meragukan perjuangan kita, mempertanyakan arah yang kita ambil, atau bahkan meremehkan mimpi-mimpi yang kita kejar. Tapi pada akhirnya, waktu yang akan membuktikan semuanya. Keyakinan dan kerja keras selalu menemukan jalan untuk bersuara. Waktu, dengan caranya sendiri, akan menunjukkan makna dan hasil dari setiap langkah yang pernah kita ambil.

Masuk Semester 4, proses penyusunan dan bimbingan tesis dimulai. Bolak-balik ke kampus - kantor - rumah lengkap dengan segala dramanya. Bukan sekedar "drama biasa". Ada masa ketika anak harus dirawat di rumah sakit, lalu giliran saya sendiri yang harus dirawat, belum lagi berbagai drama lain yang rasanya terlalu panjang untuk diceritakan satu per satu. Di semester ini juga saya mulai turun lapangan (turlap). Inget banget turlap sambil bawa-bawa bayi T.T Itu udah mulai pesimis selesai ngga tesis gw ini. Tapi udah kadung babak belur, akhirnya berusaha untuk berteguh hati, harus selesai pokoknyaaaaa. Alhamdulillah terlewati juga walau harus nambah 1 semester lagi plus dengan segala dramanya juga.

Segala proses panjang yang saya lalui selama kuliah ini bikin momen yudisium dan gladi bersih wisuda terasa overwhelmed banget. Padahal baru gladi bersih ya wkwk. Somehow perasaan tu bawaaanya membuncah banget. Orang-orang mah ke yudisium biasa aja ya, ke gladi bersih juga biasa-biasa aja, nah saya donk mbrebes mili berkaca-kaca😂 Kaya ngga nyangka aja gitu udah mau sampai di titik akhir. Pas acara wisudanya malah ngga ada nangis2, full senyum, nyengir lepas, legaaa. 

Saya bersyukur banget Allah memberikan saya orang-orang terdekat dan lingkungan yang mendukung, juga orang-orang yang entah bagaimana caranya muncul atau sekedar lewat dalam hidup saya ketika saya butuh. Terutama setiap saya ragu dan pengen mundur, ada aja yang meyakinkan. Tiap saya lelah mau berhenti, selalu ada yang menenangkan dan membesarkan hati. Tiap pengen nyerah, ada aja yang menguatkan. Bener-bener kalo ngga ada izin dan karunia Allah, kayanya seluruh proses perjuangan tadi ngga mungkin saya jalani. Setiap langkah dan cerita yang terlewati tak lepas dari kasih sayang-Nya yang datang lewat kehadiran orang-orang baik di sekitar saya.

Alhamdulillah, pada hari Sabtu, 15 Maret 2025 yang lalu, genap satu tahun sejak saya menjalani seminar proposal (Jumat, 15 Maret 2024), akhirnya tanggung jawab pendidikan S2 ini tunai dengan penuh rasa syukur. Satu bab penting dalam hidup saya akhirnya selesai.


Kenalan dengan Bekasem / Bekasam : Si Langka yang Unik

 


Pertama kali nyicip Bekasem/Bekasam ini di kota asal suami, Kotaagung, Lampung. Bekasem ini merupakan makanan yang terbuat dari ikan dan rebung fermentasi serta nasi. Rasanya asam-asam fermentasi dan berbentuk seperti lontong, tapi ada juga yang ngga berbentuk lontong.

Konon awal mula Bekasem ini dibuat karena dulunya akses ke kota tidak mudah dan belum ada es untuk mengawetkan ikan sehingga agar ikan-ikan nelayan tidak busuk maka diawetkanlah ikan-ikan tersebut dengan metode fermentasi.

Karena bukan orang Lampung, jadi pertama makannya berasa agak aneh, asem-asem gimana gitu. Tapi yang kedua ketiga kalinya mulai terbiasa, dan mulai menikmati "keanehan"nya😄 Apalagi kalo makannya pas lagi hangat trus pake teh. 

Sayangnya Bekasem ini agak susah dicari sekarang. Saya sendiri udah agak lama di Lampung baru ketemu. Dulunya awal-awal pindah ke Lampung sering banget nanya Suami, makanan khas nya apa sih. Soalnya kebanyakan kuliner disini itu bakso, pempek, tekwan, ayam penyet, dan yang lagi menjamur sekarang coffee cafe. Restoran yang jual makanan daerahnya jarang banget. 



2 foto diatas itu bekasem yang kami beli di dua tempat berbeda di Kotaagung. Bukan efek kamera aja, tapi salah satunya memang lebih gelap, lebih padat, dan lebih pedas. Tapi overall rasanya hampir sama, asam-asam khas fermentasi. 


Nah kalo foto di atas ini cara Ibu Mertua saya makan Bekasem, dicolek pake kerupuk😊Tapi bisa juga dimakan langsung gitu aja, tergantung selera. 

Revenant (2023) : Drama Rasa Film Horor


Judul Drama: Revenant / The Devil / Akkwi
Genre : Mystery, Thriller, Horror
Jumlah Episode : 12
Tanggal Rilis : 23 Juni - 29 Juli 2023
Director : Lee Jung-Lim
Penulis : Kim Eun-Hee
Cast : Kim Tae-Ri, Oh Jung-Se, Hong Kyung
"Hantu itu tidak ada. Manusia lebih menakutkan daripada hantu."
Gu San-Yeong, Episode 1 
Sekilas Tentang Revenant
Drama ini berkisah tentang Gu San-Yeong (Kim Tae-Ri) yang dirasuki oleh Roh Jahat setelah datang ke upacara pemakaman Ayahnya, Profesor Gu Gang-Mo (Jin Seon-Kyu). Profesor Gu Gang-Mo adalah seorang Profesor Folklore (spesialis kebudayaan seperti, cerita rakyat, legenda, mitos, dan seni di masyarakat). Kematiannya yang mencurigakan namun akhirnya disimpulkan sebagai bunuh diri. 

Gu San-Yeong sendiri mengetahui Ayahnya adalah Profesor Gu Gang-Mo setelah kabar kematian Profesor Gu Gang-Mo diberitahu oleh Ibunya sendiri yang bernama Yoon Gyeong Moon (Park Ji-Young). Sebelumnya Gu San Yeong tidak mengetahui bahwa dia memiliki seorang Ayah, karena sejak ia kecil ibunya selalu mengatakan bahwa Ayahnya sudah meninggal.

Di upacara pemakaman Ayahnya untuk pertama kalinya Gu San-Yeong bertemu dengan Neneknya. Disini Neneknya menyerahkan wasiat dari Ayahnya berupa kotak yang berisi sebuah aksesoris rambut anak kecil berwarna merah.

Di upacara pemakaman ini Gu San-Yeong juga tak sengaja bertemu dengan Profesor Folklore lainnya, yaitu Profesor Yeom Hae-Sang (Oh Jung-Se). Profesor Yeom Hae-Sang memiliki kemampuan untuk melihat hantu. Saat berpas-pasan dengan Gu San-Yeong, Profesor Yeom Hae-Sang segera menyadari, bahwa Gu San-Yeong telah dirasuki oleh Roh JahatRoh Jahat yang sama yang telah membunuh Ibu dan Ayahnya belasan tahun yang lalu.

My Review
Baru pertama kali nonton drama feel-nya feel film horor. Biasanya beda kan horor drama sama horor di film. Tapi ternyata nonton drama ini berasa lagi nonton film horor asia donk. Ngga berani nonton malem2. 

Memang ngga melulu gloomy suasana dramanya. Tapi kalo udah pas scene horornya tiba, beneran lighting, setting, angle, dan karakter yang dimainkan oleh aktornya, dalam hal ini, Kim Tae-Ri dan Oh Jung-Se (applause dulu) bikin saya kaget, atau kalo ngga siap2 nutup layar hp separo (jaga2 kalo kaget). Apalagi scene kalo Gu San-Yeong lagi kesambet. Bikin bergidik.

Kalo menurut saya sebenernya tema cerita dramanya klise, orang yang dirasuki oleh Roh Jahat. Tapi karena lihat jajaran cast-nya perkiraan di awal dramanya kayanya bakal bagus. Dan bener donk, drama ini berhasil menggiring saya untuk menyimpulkan pelaku tertuju pada 1 tersangka, padahal.... (nonton sendiri hehe). 

Salah satu penyebabnya karena flashback scenes untuk melengkapi isi ceritanya ditampilkan secara bertahap. Hingga mendekati akhir episode baru kepingannya hampir lengkap, baru kita paham kenapa begini dan kenapa begitu, dan baru keliatan cerita seutuhnya.

Karena beberapa karakternya berkaitan dengan folklore korea, maka dalam drama ini pun diselipkan kisah sejarah, adat istiadat, legenda, mitos, hingga latar belakang kesenian yang ada di Korea. 

Kemudian pendalaman karakter yang dilakukan tokoh utama menjadi kelebihan drama ini juga. Drama ini mungkin ngga dibintangi dengan flower boys, tapi kalo liat cast-nya, jelas ngga diragukan lagi drama ini diisi dengan aktor dan aktris senior Korea Selatan, seperti Kim Tae-Ri, Oh Jung-Se, Jin Seon-Kyu, Park Ji-Young dan lain-lain. Penulis drama ini, Kim Eun Hee, juga merupakan Penulis drama terkenal korea yang telah melahirkan beberapa karya terkenal, seperti Signal (2016), Kingdom (2019), Kingdom : Ashin of The North (2021), dan Jirisan (2021).

Poin-poin penting di drama ini yang bakal menimbulkan pertanyaan :
- Kenapa Ibu Gu San-Yeong tidak memberitahu bahwa Ayahnya selama ini masih hidup?
- Apa kaitannya Gu San-Yeong dengan Profesor Yeom Hae-Sang?
- Mengapa Ayahnya justru mewariskan benda terkutuk kepada Gu San-Yeong?
- Apa hubungan keluarga Profesor Yeom Hae-Sang dengan Roh Jahat tersebut?
- Mengapa Roh Jahat tersebut malah ingin Gu San-Yeong dan Profesor Yeom Hae-Sang menemukan 5 benda keramat yang justru bisa menyegelnya?
- Siapa sebenarnya nama asli Roh Jahat tersebut?
- Bagaimana Roh Jahat tersebut menjadi Hantu Pendendam?

Yang kurang, selain jumlah episodenya, mungkin scenes cerita mengenai kehidupan Profesor Gu Gang Mo juga berasa kurang, karena kan dia kunci penting dalam cerita ini. Seharusnya agak lebih banyak lagi cerita tentang latar belakangnya. Imho ya. Overall dramanya memuaskan. Pengennya ada season 2 nya nih. 

Bongkar Celengan Rp 20.000-an (Dapet apa yaa?)


Tahun lalu saya pernah bahas tentang sinking fund yang saya tuang di postingan >> INI. Selain menabung dengan metode sinking fund, saya juga mencontoh beberapa youtuber yang bikin semacam celengan dengan nilai tertentu. Misalnya celengan 5ribuan, 10ribuan, atau 20ribuan. 

Metode celengan ini cocok banget di saya yang ngga telaten pake metode amplop dan pencatatan gitu. Karena pernah juga nyobain pake metode amplop dan nyatet di jurnal gitu, eh malah ngga jalan. Akhirnya saya bikin celengan kaleng yang tinggal masuk-masukin aja. Celengannya saya bikin 3: celengan 5ribuan, celengan 10ribuan, dan celengan 20ribuan.

Waktu bikin celengan model gini sih belum ada rencana kalo sudah penuh mau dibeliin apa, yang penting nabung ajalah dulu. Alhamdulillah bulan juli ini salah satu celengan (yang 20ribuan) penuh. Pas dibongkar ternyata ada uang 5ribuan, 10ribuan, 50ribuan, dan 100ribuan yang keselip. Keselipnya lumayan banyak wkwk. Alhamdulillah. Total 20ribuan yang kekumpul berjumlah Rp 1.660.000,- ditambah uang yang keselip2 tadi jadi sekitar 3jutaan. Lumayan banget kaan. MasyaAllah.



Trus uang nya dibeliin apa?

Pas banget blender lagi rusak dan memang dari dulu pengen upgrade blender, cuma nunggu timing yang pas. Di shopee juga udah ditandain dari kapan tau blender yang ditaksir hehe. Akhirnya uang celengan 20ribuan yang Rp 1.660.000,- itu dibeliin blender Philips (2L Blender Plastic Jar 4-in-1 HR2223/30) dan kipas angin gantung Panasonic (kapan-kapan saya review yaa blendernyaa). 

Nah. trus uang-uang yang keselip kayak 5ribuan dan 10ribuan dimasukin lagi, tapi ke celengan yang sesuai dengan nilai masing2. Sedangkan yang 50ribuan dan 100ribuan dimasukin lagi ke tabungan Sinking Fund buat nambahin pos-pos yang ada. Alhamdulillah.

Sebenernya kalo kita konsisten nabung, misal, 20ribuan setiap hari, total setahun yang didapatkan sebesar Rp 7.300.000,- (365 hari x Rp 20.000). Namun saya sendiri nabung celengan ini masih dengan prinsip "kalo didompet ada 20ribuan, kalo ngga ada yaudah". Tapi daripada ngga sama sekali ya. Bagian penting dari semua ini pertamanya adalah MEMULAI. Bagian susah tapi kalo udah jalan, insyaAllah, tiap liat uang 20ribuan berasa langsung pengen di-save buat celengan, soalnya jarang-jarang dapetnya, jadi kalo mau dijajanin tu sayang. 

Semoga bermanfaat ya sharingnyaa...

Ngopi Enak di Bandar Lampung

I like my coffee with cream, and my literature with optimism. 
- Abigail Reynolds

Tadinya saya cuma seorang tea enthusiast, tapi sejak suami jualan kopi, akhirnya dikit-dikit mulai menikmati kopi, itu juga harus kopi campur, ntah itu mocca ataupun capuccino. Sampai saat ini pun saya masih belum bisa menikmati kopi hitam. 

Saat itu juga yang saya nikmati cuma kopi bikinan pak suami, kopi diluaran saya belum minat nyoba. Sampai akhirnya mulai bermunculan banyak kopi cafe di Lampung dengan berbagai macam varian minuman kopi, favorit saya Kopi Susu Gula Aren. Sejak itu mulai deh "petualangan" nyicip2 sana sini, pas juga pak suami memang doyan, ada partner. 

Sejauh ini ada beberapa tempat favorit saya untuk jajan Kopi Susu Gula Aren di Bandar Lampung. Btw ini subjektif yaa.

1. Nuju Coffee

Menurut saya Nuju Coffe ini harganya affordable dengan rasa seenak itu. Masih ada wangi kopi, gula arennya juga berasa, dan agak creamy. Masih cocok buat yang pengen nikmatin kopi tapi ngga yang kuat-kuat banget.

Harganya so affordable, untuk yang ukuran large harganya Rp 18.000,-, nah kalo yang kecil agak lupa karena jarang beli. Kayanya sih Rp 14.000 atau 15.000,- gitu.

Nuju Coffee ini punya 5 lokasi. Tapi yang udah kita kunjungi 3 lokasi. Pertama yang di jalan ZA Pagar Alam, paling sering beli disini, karena bisa sambil lewat arah pulang ke rumah. Yang kedua yang di kemiling. Yang ketiga yang di Enggal, nah kalo mau sambil makan siang bisa disini. Tempatnya lebih luas dan jual makanan berat juga. 

2. 20Kopi


Ini favorit pak suami. Termasuk yang sering kami beli. Wangi kopinya berasa dihidung, tapi ngga pait, ngeblend pas sama susunya. Tapi makin kesini perasaan makin creamy, tapi tetep enak si, terbukti kami suka jajan disini. Kalo di 20Kopi varian Kopi Susu Gula Aren namanya Baqa. Pernah juga nyicip Mocca nya, dan enak juga, tapi masih lebih milih kopi susu gula aren nya hehe.

Untuk harganya Rp 18.000,-, kalo yang sekitar Rp 30.000 (cmiiw). Affordable kan ya.

Sejauh ini yang saya tau ada 2 lokasi. Satunya di depan Masjid Mujahidin, satunya lagi samping kanan jalan, setelah MBK dan flyover. Ini yang sering kita sambangin. 

3. 9.1 Coffee
Ini langganan terbaru. Sama enaknya dengan 20Kopi dan Nuju. Tempatnya cozy dan banyak pilihan makanannya juga buat nemenin ngopi.

4. Newtown Coffee

Ini cafe yang paling enak-enak makanannya, mungkin karena Chef hotel ya. Cafe ini pas dibawah Hotel. Ambient Lighting nya juga bagus. Kopinya enak, makanannya enak. Karena biasanya kalo cafe kopi tu jarang makanannya yang enak. Buat ngopi sendirian juga suasananya nyaman.

5. Kopi Berbagi

Nah kalo bawa anak-anak paling strategis ngopi disini. Karena depannya playground. Kopinya enak kok, masih oke. Cafenya transparan. Jadi ngopi bisa nyambi mantau anak-anak main. 

6. Adiksi


Adiksi ini dilidah saya kaya perpaduan Fore Coffee dan Nuju Coffee. Kopinya agak strong, creamy, dan lebih manis dari favorit saya yang di list ini. Kemasannya yang paling oke, kelihatan lux dan elegan gitu.

Harganya Rp 29.000,- tambah pajak jadi Rp 31.500. Kami belum pernah nongkrong di cafenya, tapi kalo lewat cafe nya selalu rame.