Kalo ditanya mau ngapain di tahun 2026? Singkatnya sih ngga tau😅 :") Bukan karena ngga punya keinginan.
Sebaliknya, ada banyak hal yang ingin diwujudkan. Ada rencana-rencana yang dulu
rasanya masuk akal, bahkan rasanya sangat mungkin. Tapi hidup, kadang ngga semua yang kita mau bisa kita pegang erat-erat. Ada yang harus dilepas, ada
yang harus ditunda, ada juga yang harus diterima apa adanya.
Masalahnya. Saya sendiri belum sepenuhnya tau ada di fase
mana. Apa saya masih sanggup berjuang buat memenangkan keinginan,
atau memang sudah waktunya mengalah atau berhenti. Ini kayak lagi ada di fase aneh
gitu, sulit dijabarkan😅Di satu sisi masih ingin fighting,
masih ada lah setitik kobar kecil yang bilang “coba”. Mungkin ini sisa-sisa
semangat 😅 Di sisi lain, ada sisi yang bilang
“sudah cukup”. Antara berharap dan menerima. Antara ngeyel dan realistis. Jadi belum
sepenuhnya paham juga harus berdiri di mana.
Ketika menghadapi dunia diluar rumah pun, ternyata niat baik
saja ngga selalu cukup. Semangat saja juga ngga otomatis bikin semua masalah
bisa diatasi. Kadang sudah berusaha, tapi tetap saja terbentur. Kadang sudah
ingin memberi yang terbaik, tapi realitas punya caranya sendiri untuk bilang:
ngga sesederhana itu ya sist. Dan rasanya makin runyam ketika kita lagi
merasa lost dan harus berjuang sendirian.
Sebenernya saya tau, tapi seringnya lupa, hidup ngga selalu
butuh jawaban cepat. Manusia itu dengan prosesnya masing-masing. Ada fase-fase
yang memang isinya cuma pertanyaan. Masih meraba-raba, masih salah langkah,
masih sering ragu sama keputusan sendiri. Lalu terlalu keras sama diri sendiri.
Terlalu sering ngerasa harus “sudah sampai”, padahal mungkin masih di
tengah jalan. Atau bahkan masih nyari jalannya. Padahal bertahan sejauh ini aja
sebenernya sudah butuh tenaga yang ngga sedikit.
Saya juga sering lupa total kalau hidup bukan cuma soal
berani bermimpi, tapi juga tentang sanggup menanggung konsekuensinya. Ngga semua keinginan layak dikejar mati-matian. Ngga semua orang layak menerima
kepedulian kita. Saya diingatkan lagi dengan satu hal yang sebenernya sudah
lama saya tau, tapi entah kenapa sering terlupakan: tentang memenuhi ekspektasi. Ekspektasi
orang lain. Ekspektasi lingkungan. Dan yang paling berat, ekspektasi diri
sendiri.
Saya ingin jujur mengakui: saya lagi capek dan bosan. Valid.
Kalau ditarik ke belakang sebentar, sebenernya 2025 juga
bukan tahun yang kosong-kosong amat.
Di 2025, saya berhasil menyelesaikan dan lulus S2, setelah menjalaninya
dengan kehamilan, pendarahan, melahirkan, menyusui dan SEGALANYA wkwk 😅 Sudah pernah saya ceritain di SINI. Bukan
perjalanan yang mulus, tapi selesai juga.
Di tahun yang sama, saya juga mulai belajar mengurangi satu
sifat yang pelan-pelan melelahkan diri sendiri: terlalu peduli. Bukan jadi
cuek, tapi lebih selektif. Lebih sadar kalau ngga semua hal harus saya urusi,
ngga semua orang pantas saya pedulikan, dan ngga semua masalah orang lain
wajib saya pikul.
Dalam urusan kerja pun, tahun 2025 kemarin, saya mulai
belajar merapikan fokus lagi. Dulu agak ke mana-mana, sempat terpecah ke banyak
hal, dan bukan tanpa alasan juga. Sebagian karena proses S2 yang menguras emosi
dan tenaga, sebagian lagi karena kebiasaan terlalu peduli yang bikin energi habis
duluan. Belum sempurna, tapi yah minimal sudah memulai dan berjalan.
Urusan dengan orang-orang pun, pelan-pelan—atau mungkin tanpa
saya sadari—saya mulai mengambil langkah mirroring. Peduli pada yang
peduli. Tidak lagi menawarkan pada yang pernah menolak. Memberi fast
response pada mereka yang memang terbiasa merespons cepat. Sementara untuk
yang slow response, tetap dibalas, tapi menyesuaikan kondisi, ngga jadi prioritas.
Lebih ke
upaya menjaga energi dan perasaan sendiri. Saya mulai sadar, memberi perhatian secara berlebihan
pada orang yang tidak berada di frekuensi yang sama sering kali hanya berujung
lelah. Bukan salah siapa-siapa, mungkin karena ritme nya aja yang beda.
Mirroring ini jadi cara saya sekarang untuk tetap
berhubungan tanpa mengorbankan diri sendiri. Tetap sopan, tetap responsif, tapi
dengan batas yang lebih jelas. Saya tidak lagi memaksakan kedekatan, tidak juga
menarik diri sepenuhnya. Cukup menyesuaikan porsi.
Mungkin ini bagian dari proses belajar dewasa: memahami bahwa
tidak semua relasi perlu dikejar, dan tidak semua jarak perlu dipermasalahkan.
Ada orang yang hadir penuh, ada yang datang sesekali, dan itu nggapapa kayanya sekarang buat saya. Dengan
begitu, saya bisa tetap ada untuk orang lain, tanpa lupa menjaga diri sendiri.
Ya gitulah, hidup😅Isinya “kadang-kadang”. Kadang-kadang sadar, kadang-kadang denial. Kadang-kadang semangat, kadang-kadang meredup. Kadang-kadang aman damai, kadang-kadang pengen sleding kepala orang 😅
Jadi mungkin 2026 bukan soal jadi siapa, mencapai apa, atau
membuktikan apa ke siapa. Tapi soal menjaga diri tetap utuh. Tetap waras. Tetap
punya ruang buat bernapas. Tetap bisa jujur bilang capek tanpa merasa gagal atau judgement ngga bersyukur. Ngga buru-buru nyalahin. Ngga langsung merasa kurang. Karena hidup ternyata nggak
cuma tentang hasil akhir, tapi juga tentang bagaimana kita bertahan di proses
yang panjang dan ngga selalu jelas arahnya.
Semoga di 2026 ini, saya bisa lebih ramah sama diri sendiri.
0 Comments:
Post a Comment