Showing posts with label Comfortable Silence. Show all posts
Showing posts with label Comfortable Silence. Show all posts

Comfortable Silence : Diam dengan Nyaman

Dalam banyak konteks sosial, kenyamanan sering diidentikkan dengan kelancaran komunikasi verbal. Rasa “nyaman” dalam hubungan sosial buat sebagian orang adalah ketika ngobrol terasa nyaman dan sefrekuensi. “Kalau ngobrolnya nyambung, berarti cocok.” Begitu logika umum yang sering kita dengar. Dan ngga salah. Itu juga memang salah satu yang membuat kita nyaman dalam hubungan dengan pasangan, persaudaraan, pertemanan, ataupun lingkungan sosial lainnya. 

Tapi bagi saya pribadi, tingkat hubungan sosial yang paling nyaman adalah ketika saya bisa diam bersama seseorang (ataupun dalam suatu lingkungan), tanpa merasa canggung, ngga ada topik yang harus dicari-cari. Bisa diam tanpa cemas atau tanpa merasa perlu “menghibur” orang lain dengan percakapan. 

Dan ternyata, perasaan satu ini bukan “feeling personal”. Dalam sosiologi, psikologi, hingga studi komunikasi, konsep ini sudah dibahas dan memiliki istilahnya sendiri. I’m just a regular normal overthinker. Yah, akhirnya saya punya validasi soal ini wkwk😅

Baru-baru ini saya kenalan dengan istilah Comfortable Silence (Keheningan yang nyaman), kebalikan dari uncomfortable silence yang menghasilkan awkward momentsComfortable Silence adalah kondisi saat dua/lebih individu dapat berbagi keheningan tanpa merasa canggung, tanpa terancam secara emosional, atau tanpa merasa harus “membuktikan” keberadaannya melalui interaksi verbal.

Sosiolog Erving Goffman menyebutkan bahwa dalam interaksi sosial, orang biasanya melakukan self-presentation (menciptakan citra). Jika dua orang bisa diam bersama tanpa canggung, artinya tuntutan untuk mengelola citra itu menurun.

Self-presentation theory explains how individuals use verbal and non-verbal cues to project a particular image in society (Goffman, 1959). The theory draws on dramaturgy metaphors, such as backstage and frontstage, as a lens to explore human behaviour in everyday life (Goffman, 1959). (https://open.ncl.ac.uk/)

Kita seperti pemain teater yang terus berada di “frontstage,” menjaga impresi, memikirkan harus bilang apa, dan bagaimana terlihat di mata orang lain. Nah, ketika dua atau lebih individu bisa diam bersama tanpa canggung, itu tanda bahwa “panggungnya” sudah berubah. Kita sudah berada di backstage, tempat dimana topeng sosial sudah dilepas.

Kenyamanan dalam diam ini bukan hanya soal psikologi personal, tapi juga mencerminkan kualitas relasi sosial. Ada namanya konsep low-maintenance relationship. Hubungan atau interakasi yang ngga perlu energi besar. Jenis hubungan ini biasanya muncul saat individu yang berinteraksi sudah melewati fase frontstage yang penuh performa sosial, dan masuk ke fase backstage. Kalo pinjem istilah dari Goffman untuk menggambarkan wilayah di mana individu dapat menjadi dirinya sendiri tanpa “pertunjukan sosial”.

“Nonverbal behavior often communicates more intimacy than verbal communication.” (Burgoon, 1994)

Tapiii, ini ngga melulu soal performa sosial. Kan kita juga ngga mungkin deket sama semua orang. Diri kita sendiri pasti punya boundaries, batas-batas diri yang tercipta secara sadar maupun tidak sadar melalui pengalaman, prinsip hidup, ataupun kebiasaan. Comfortable Silence juga bisa terkait dengan kebutuhan Ruang Personal (Personal Space) seseorang dan regulasi Social Energy yang dimilikinya. 

Ruang pribadi (personal space) sendiri didefinisikan sebagai gelembung ruang psikologis yang mengelilingi seseorang. Manusia cenderung untuk mempertahankan jarak minimum yang paling disukai apabila berinteraksi dengan orang lain (Hanurawan, 2024).

Social energy merujuk pada energi emosional dan psikologis yang digunakan saat kita berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukanlah energi fisik yang terukur seperti dalam kegiatan olahraga, tetapi lebih merupakan keadaan mental dan emosional kita ketika berada dalam interaksi sosial. (https://psikologkakgun.com/)

Terutama bagi orang yang memiliki kecenderungan introverted intuition atau highly sensitive person, kehadiran yang tenang lebih bermakna daripada percakapan yang ramai (tsah~😎). By the way I’m an INFJ.

Mungkin itu sebabnya, ada sebagian diantara kita (termasuk saya) merasa bonding paling kuat terjadi bukan saat ngobrol panjang lebar. Justru muncul pada momen-momen sederhana, seperti ketika bekerja bareng di café, but in silence and focus, atau saat naik motor boncengan, menikmati angin dan pemandangan tanpa perlu bertukar kata. Sebenernya dua contoh kegiatan tadi adalah saya sama Suami ðŸ˜„ Kedengeran aneh ya, ngga ngobrol, tapi rasanya dekat. Tapi kadang boncengan sambil menikmati perjalanan bisa terasa lebih dekat daripada obrolan berjam-jam.

In my defense, itu bukan minim komunikasi, tapi komunikasi versi tenang. Mungkin karena contoh Comfortable Silence ini saya alami dengan Suami, saya jadi paham bahwa kami sudah melewati masa frontstage (minjem istilah Goffman). Kami sudah nggak perlu tampil atau mengelola kesan lagi. Kami sudah sampai di ruang diri kami versi asli, ruang yang disebut Goffman sebagai backstage. Dan mungkin, Comfortable Silence itu adalah tanda bahwa kita sudah diizinkan masuk ke wilayah paling asli dari seseorang.

Tapi ini bukan berarti saya ngga nyaman ngobrol😅Cuma kenyamanan menurut saya ada levelnya mungkin ya. Mostly, saya bisa ngobrol dengan siapa saja dengan nyaman, but at the average level. Bahkan walaupun ngobrol dengan yang bukan satu divisi (misalnya), atau mungkin ketemu di jalan, ya ngobrol aja. Hanya saja pada konteks "ngobrol", ketika saya sudah nyaman dengan teman ataupun lingkungan, maka deep talk adalah level ternyaman saya. Actually I prefer to have deep conversation or quietness than small talk.

Buat saya, menemukan orang yang bisa diajak ngobrol dengan nyaman dan nyambung itu relatif mudah. Selalu ada teman atau lingkungan yang “klik” secara obrolan, topiknya ngalir, humornya cocok, energinya pas. 

Tapi menemukan seseorang, atau lingkungan, yang tetap terasa nyaman justru saat kita nggak pengen ngomong apa-apa, cuma pengen diam, tapi tetap merasa it's fine not to be fine, itu jauh lebih susah.

Karena kita hidup di dunia yang bising, penuh notifikasi, tuntutan sosial untuk selalu “ada”. Onlineupdatereply. Terus terhubung, tapi sering kali tidak benar-benar nyambung. Jadi di dunia yang seramai ini, kalau ketemu teman atau lingkungan yang didalamnya kita bisa diam dengan nyaman, it's a treasure.