Baru kali ini saya nge-review Podcast😅 Tapi sebenarnya ini juga bukan review dalam
arti yang sesungguhnya. Nulis ulang ini diblog, karena ada beberapa part (walaupun
ngga semuanya) yang bikin something like a little bit of relate feeling.
Pun saya ngga menekan tombol play Podcast
ini dengan niat mencari jawaban apa pun. Pas aja muncul di fyp youtube, eh ada
Mba Dian di Channel Bang Radit, cukup buat saya nge-klik dan
nonton sampai habis. Ngga nyangka, obrolan Bang Radit dan Mba Dian ini malah
membuka ruang di kepala saya yang selalu penuh dan berisik.
Salah satu Podcast Bang Radit yang kerasa bedanya, karena
hampir ngga ada jokes, ngga ada usaha mencairkan suasana, Bang
Radit hampir sepenuhnya hadir sebagai pendengar. Percakapannya berasa rapat dan niat
banget. Ngga ada ruang kosong, ngga ada bagian yang terasa bisa dilewati sambil
setengah sadar. Beberapa part bahkan harus saya ulang karena
cara ngomong Mba Dian yang cepet. Nge-lag dikit lewat.
Yang menarik lagi, percakapan mereka ngga selalu berjalan
searah atau saling menyambung secara topik. Namun justru di situlah kualitas
obrolan ini terlihat. Keduanya cermat menangkap lalu menanggapi setiap pilihan
kata yang muncul, peka membaca respon, dan bisa ngikutin irama satu sama lain.
Dengan kepekaan itu, obrolan tetap terasa hidup dan mengalir, meskipun arah
pembicaraan berpindah.
Di satu bagian, Mba Dian berbicara tentang apa yang
ditakutkannya: kehilangan meaning. Kehilangan makna. Sampai
akhirnya hidup terasa membosankan. Intinya ketika kamu melakukan sesuatu dalam
hidup dan terkungkung dalam cara hidup yang sistemnya sudah seperti itu. Saat
kamu memasukkan diri kamu ke dalam sistem itu, kamu sudah jadi ngga natural
lagi. Padahal dulunya ketika kamu hanya sebagai makhluk natural dari
alam, you just being you. Tapi ketika sudah dikotak-kotakkan oleh
sistem, kamu jadi ngga natural lagi dan jadi sangat depresif. Apapun yang kamu
lakukan menjadi salah karena kamu memandang diri kamu dengan sistem yang salah.
Kurang lebih begitu yang saya tangkap. CMIIW.
Bagian ini cukup mengena buat saya. Mungkin aja
kebingungan dan kegelisahan yang selama ini saya rasakan punya akar yang
serupa. Kemudian, mungkin juga saya sedang
berada di suatu ambang. Seperti memasuki babak baru dalam hidup, hanya saja mungkin belum tahu bentuknya apa, belum ketemu jalurnya lewat mana, ataupun bagaimana cara memulainya.
Hal lain yang saya pelajari dari obrolan mereka adalah cara
mereka berdialog. Mereka datang dengan posisi yang sama: gelas kosong. Tidak
saling menonjolkan isi kepala, tapi membuka ruang untuk diisi satu sama lain.
Obrolan seperti ini terasa hidup, jujur, dan menyenangkan. Dan tanpa terasa,
saya sebagai pendengar ikut membawa pulang sesuatu. That’s why kayaknya
perlu saya catat ulang di blog. Seru banget pasti ya punya lawan bicara seperti
itu.
Bonus, di Podcast ini saya dapet rekomendasi Channel Youtube
baru yang langsung saya subscribe saat itu juga😄: Channel Prof. Scott Galloway dan
Channel Predictive History (Prof. Jiang.) Obrolan mereka juga
mengingatkan saya, sekecil apa pun, setiap hari, kita harus belajar sesuatu
untuk menambah value pada diri sendiri. Mereka berdua ini
berdialog sambil nyatet juga loh, secara harfiah beneran nyatet🙌
Overall, Podcast ini ngga memberi saya jawaban yang utuh atau solusi yang
langsung bisa dipakai. Mungkin memang bukan itu fungsinya. Tapi cukup untuk
memberi ruang jeda, pengingat, dan menata ulang pikiran.
0 Comments:
Post a Comment