It's always amazing to see every little thing that you do
it's always still feel unbelievable, that you've been there, in our life
you are, the gift
we love you, Son :)
It's always amazing to see every little thing that you do
it's always still feel unbelievable, that you've been there, in our life
you are, the gift
we love you, Son :)
Alhamdulillah Arkan genap 2 minggu kemarin. Makin sehat dan sholih ya, Nak :)
In these two weeks so many things change in our new life, with Arkan in it. Sekarang waktu malah lebih optimal tergunakan. Biasa kalo Arkan lagi bobo langsung deh kerjaan rumah di-rodi-in hehehe, pokonya pake istilah "mumpung Arkan lagi bobo nih.."
Perkembangan Arkan meningkat dari hari ke hari. Suka kode-kodean sama Abi Ummi kalo mau pup, mpis, sama laper :D Sekarang malah udah bisa pipisin tembok kamar hehehe <<-- Arkan belum selesai mpis waktu ummi nuker popok basahnya.
Hujan pun selalu mewarnai hari-hari Arkan sejak lahir. Abi Ummi nya sempat khawatir, soalnya hari ketiga Arkan mukanya jadi agak kuning. Di itung-itung sejak 2 minggu umurnya Arkan baru 3 kali di jemur, hujan terus. Sampe nyamperin pak dokter, katanya it's okay Mam, that's a normal thing. Dan sampai tadi malem hujan tetap menemani Arkan sholih. Tetap disyukuri ya, Nak. Mudah-mudahan berkah. Allahumma shayyiban nafi'an...
Setelah 5 hari Arkan buat sejarah lagi di hidup nya ehehe... Arkan sempat ga ee' hampir seminggu. Aaak~... Abi ummi nya sampe kwatir. Nanya pak dokter lagi, and the answers are still the same, "gapapa, berarti ASI nya keserap semua oleh tubuhnya, jadi output nya ga ada, Bu."
Abi Ummi nya cuma bisa nerima jawaban om Dokter dengan bernafas seperempat lega. Ga lupa Abi Ummi nya tetap nanya Dokter Google tentang bayi kuning dan ee' mogok :D Daaaan, setelah seminggu akhirnya Arkan rapel ee'. Sampai sekarang ee' nya Alhamdulillah lancar :D
Abi Ummi nya juga udah bisa mandiin Arkan sendiri. Tadinya deg-degan, apalagi kita cuma berdua. Dan tenyata sodara-sodara, pepatah "Ala bisa karena terbiasa" itu memang betuul. Jadi sekarang kalo ummi nya ngantuk karena nemenin Arkan ngronda semalem suntuk, Abi nya udah bisa gantiin mandiin Arkan ehehe.. Dan Arkan kelihatannya lebih seneng dimandiin Abi nya. :p
Kondisi ummi nya Arkan alhamdulillah pun semakin membaik, berkat dukungan Abi Arkan yang hebat (semoga Allah memberkahimu selalu suamiku, menjagamu selalu dalam ketaatan pada-Nya dimanapun kamu berada, aamiin ya Allah.. :) )
Mudah-mudahan Arkan juga bisa ASI sampai 2 tahun ya, Nak. Soalnya ummi nya sempat kena syndrom Baby-Blues di 3 hari awal :( jadi ASI nya agak macet, syndrom perantau kayanya ini. Alhamdulillah begitu Arkan lahir orang tua langsung ngacir dari Batam ke Karimun. Mama mertua juga bela-belain dateng dari Lampung buat training-in Abi Ummi nya Arkan :D and i have a great husband too who supports me always, thank you so much ya Allah :')
(about Baby-Blues i'll share you later in another post ya, Buns).
Now we're enjoying (and always learning) our new day as parents. To all new mommies, semangat yaa Buns, semoga Allah senantiasa memberkahi langkah2 kita, menjadikan kita pendidik yang baik lagi sholih sholihat untuk anak-anak kita, aamiin ya Allah...
iramarby
Ummu Arkan
Bismillahirrahmanirrahim...
Kami namakan kamu Arkan Abdurrahman. Dalam nama kamu ada harapan kami, Nak. Agar kamu kelak menjadi orang yang kokoh. Kokoh imanmu, kokoh akhlakmu, kokoh berdiri dalam kebenaran, kokoh berjuang dijalan-Nya, kokoh mengikuti risalah utusan-Nya.
Dalam nama kamu ada doa kami, Nak. Semoga kamu adalah salah satu pejuang yang menegakkan firman-Nya, penerus perjuangan Rasul-Nya, semoga kamu termasuk hamba-Nya yang taqwa... aamiin ya Allah...
Arkan Abdurrahman bin Rizki Priatama
Karimun, Kepulauan Riau
Jumat, 21 September 2012, pukul 06.20 wib
3.1 kg - 52 cm
with Abi & Ummi :)
PIKIRAN POSITIF, LINGKUNGAN POSITIF, AKTIVITAS POSITIF, ENERGI POSITIF
EVALUASI DIRI, EVALUASI HIDUP, EVALUASI IBADAH
PASRAH BEDA DENGAN GA BERUSAHA
Berikut ini adalah rangkuman kultwit neng Ai. Bela2in dipaketin di wp. Ketauan sih ini ga bisa nge-chirp :p heheh... Aku rangkum karena aku rasa kultwit ini inspiring and hardly-recommended untuk dibaca, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah.
Aku sendiri selalu merasa kecil dan malu setiap kali baca pengalaman keluarga-keluarga yang berhasil mencetak para penghafal al-Quran. SubhanAllah.. setiap kisah mereka selalu menjadi semacam lecutan semangat untuk lebih baik lagi, semangat yang kadang acapkali naik turun :(
Sila dibaca ya, semoga bermanfaat dan menjadi charger ruhiyah untuk mencetak generasi Qurani di rumah-rumah kita :)
Bismillahirrahmanirrahiim...
1. Sy mau sharing ilmu yg sy dapet di acara @salamui: Talkshow "Membentuk Keluarga Generasi Qurani" pk9-12 siang tadi di MUI #GenerasiQurani
2. Pembicaranya Ustdz. Aan Rohanah (pimp. PPP Darul quran), Ust. Budi Dharmawan (pendiri Yayasan Ummu Habibah) & para hafidz #GenerasiQurani
3. Di antaranya ada Wirda (putri ust. Yusuf Mansyur), Faris (putra ustzh Wirianingsih) & Umar (putra ustzh Yoyoh Yusroh) #GenerasiQurani
4. Talkshow Keluarga Sakinah itu dibuka dgn pertanyaan utk Ust. Budi: Bagaimana membangun keluarga generasi Qurani? #GenerasiQurani
5. Rujukan kita adl "Sebaik2 generasi adl #GenerasiQurani". Tetaplah berupaya membentuknya meski generasi zaman Rasulullah tetap yg terbaik.
6. Lingkup terkecil dlm masyarakat adl keluarga. Maka, langkah pertama membentuk #GenerasiQurani bukan dgn mencari seorang istri, tapi ibu.
7. Loh, apa bedanya? Jelas beda. Jika mencari istri, maka karakter yg dikedepankan adl idealita diri. #GenerasiQurani
8. Sedangkan jika mencari ibu bagi anak2 kita, maka idealita #GenerasiQurani lah yang utama, Terlihat jelas kan yah perbedaannya?
9. Begitu sebaliknya. Jika ingin membentuk #GenerasiQurani, yg dicari karakter ayah, bukan suami. Anak yg shalih dari orangtua yg shalih.
10. Mengapa #GenerasiQurani? Ustdz Aan: pertama krn keutamaan dari alQuran. Jika ingin membentuk keluarga islami, maka jiwanya hrs alQuran.
11. Jika ingin mendidik anak yg shalih, tapi tetap bs berkarya besar di masyarakat, maka anak tsb juga hrs berjiwa alQuran. #GenerasiQurani
12. Mengapa #GenerasiQurani? Alasan kedua: Sebaik2 kamu adl yg belajar alQuran & mengajarkannya. Moga Allah & para malaikat mendoakan kita.
13. Keluarga sdh terbentuk, selanjutnya bangun Visi Keluarga: Mengembalikan zaman ke dlm #GenerasiQurani ~> dari keluarga hingga masyarakat.
14. Langkah2nya: Sering berinteraksi dgn alquran, Ortu menjadi tauladan bagi anak & saling memotivasi utk menjadi hafidz/ah #GenerasiQurani
15. Lingkungan itu pengaruhnya besar. Maka, jgn pernah lelah berdoa utk menjadi penghafal alQuran, semoga Allah memudahkan. #GenerasiQurani
16. Mengapa ingin mjd penghafal alQuran? Dan bertuturlah Wirda, Faris, serta Bang Umar ttg motivasi & pengalaman mereka #GenerasiQurani
17. Faris: Berlatar dr ortu yg cinta Quran, maka dibangunlah kebiasaan: mendengarkan Quran, berkisah ttg hafidz sukses, dll #GenerasiQurani
18. Tapi tetap saja, kesadaran utk menghafal alQuran berasal dr diri sendiri. Tugas orangtua menskenariokan dan mengarahkan #GenerasiQurani
19. Wirda: Menghafal Quran karena lingkungan mendukung untuk itu. Bapaknya ustadz, tinggal di kampung Quran. Lengkaplah. #GenerasiQurani
20. FYI, Wirda ini home schooling. Biar bisa fokus menghafal. Di sini, Ust. @Yusuf_Mansur kasih pemahaman yg menyejukkan... #GenerasiQurani
21. Kata Ust @Yusuf_Mansur, "Kalo mengejar dunia, maka hny dunia yg kamu dapatkan. Tp kalo akhirat, maka duniapun akan ikut" #GenerasiQurani
22. Wirda kembali berkisah ttg mimpi bertemu Rasulullah saw dan Abu Bakar ra pasca keinginannya utk berhenti menghafal #GenerasiQurani
23. Sy gak akan ceritain detil mimpinya yah. Teman2 sila tonton video acara Chatting dgn YM di sini: http://bit.ly/ORCopJ #GenerasiQurani
24. "Kalau kamu yakin utk menghafal, insyaAllah akan dimudahkan." Intinya begitu pesan Rasulullah saw pada Wirda (dan kita) #GenerasiQurani
25. Oya, Wirda juga membagi tipsnya dlm menghafal Quran: 1. Jaga mata. 2. Jaga aurat. MasyaAllah.. singkat tapi jleb banget! #GenerasiQurani
26. Nah, di sini Umar, putra alm Ustdz. Yoyoh lebih byk berkisah ttg ibunda tercinta: saat ke Gaza hingga mimpi2 membentuk #GenerasiQurani
27. Di Gaza, para ummahat yg ditemui Ustdz. Yoyoh memperkenalkan diri begini: Sy fulanah, memiliki anak sekian & sy hafidzah #GenerasiQurani
28. Tampaknya mudah mencetak anak #GenerasiQurani di Gaza yaa. Jelas krn ortunya berjiwa Quran & lingkungan yg selalu menyenandungkan Quran
29. Inilah tantangan yg dibawa Ustdz Yoyoh sepulang dari Gaza. Bagaimana membuat Quran hadir di tengah masyarakat Indonesia #GenerasiQurani
30. Sudah cukup yah umat Islam terpuruk. Banyak tp seperti buih di lautan. Maka, saatnya bangun #GenerasiQurani! Kembalikan kejayaan Islam!
31. Ustdz Yoyoh lalu membentuk pesantren Quran bagi anak. Knp dimulai dr anak2? Karena mereka akan mjd kiayi2 majlis ta'lim #GenerasiQurani
32. Menjadi Ust/Ustdz yg mendidik & menumbuhkembangkan #GenerasiQurani. Ngaji bukan sekadar salawatan, tp ada muatan2 Quran yg disampaikan.
33. Jadi, kita dituntut bukan hanya untuk hafal Quran, tapi juga memahami dan mengamalkan isinya dengan baik. #GenerasiQurani
34. Terakhir, ada sedikit sharing juga dr Nugraha, mhs FE UI yg hafidz.Ia juga berkisah ttg pengalamannya menghafal Quran #GenerasiQurani
35. Saat kelas 1 SMA, Nugraha bertekad menuntaskan hafalan Qurannya. Alasannya karena ingin fokus persiapan ujian masuk PTN. #GenerasiQurani
36. Maka, iapun menghafal tiap ba'da maghrib hingga adzan isya setiap hari. Sayang, waktunya terasa kurang bagi Nugraha. #GenerasiQurani
37. Hanya ada satu solusi jika ingin hafalannya bertambah banyak: Potong waktu main! #GenerasiQurani
38. Setiap orang yg ingin menghafal harus punya waktu khusus. Kalo nggak, namanya mimpi! Karna tdk terlihat keistiqomahannya #GenerasiQurani
39. Dari semua pengalaman yg dibagi itu, terangkum sudahlah: Ini bukan soal bisa atau tidak. Tapi mau menghafal atau tidak? #GenerasiQurani
40. Sekian kultwit #GenerasiQurani. Moga bermanfaat & melecut kita utk semangat menghafal Quran. Menjadi bagian dari Generasi Qurani. #NtMS
seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.
‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.
Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”
by : Salim A. Fillah
Source : http://salimafillah.com/karena-ukuran-kita-tak-sama/
Alhamdulillah, tepat 27 April lalu suami menginjak umur 27 tahun. Semoga sisa umurmu berkah dan penuh karya suamiku :)
Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus untukmu, mengampuni segala kesalahanmu, meridhai setiap langkahmu, menaungimu dengan cinta-Nya, meringankan langkahmu untuk dakwah dan jihad, menjadikanmu manusia yang bermanfaat bagi agama dan ummat ini, aamiin ya Allah...
Tepat tanggal 25 maret lalu umur saya merangkak ke angka 25 tahun. 25 in 25 :D Ada beberapa kejutan hari itu, dari orangtua saya yang datang tiba-tiba membawa kue ulang tahun, feel like i'm still their little girl :) sampai hadiah tak terduga dari Ayah hehe..
Alhamdulillah, dan hadiah terindah itu adalah iman ini yang masih melekat di dada, semoga selamanya. Dan, hadiah terindah itu adalah mereka :) orangtuaku, papa mama mertua, seorang suami luar biasa (words can't tell how much i love you), dan tentu saja, calon jundi yang tengah berproses menjadi insan di rahim saya. Semoga menjadi pejuang sholih/ah yang mengabdi pada agama dan ummat ini :) aamiin..
Segala puji bagi-Mu yaa Rahman, semoga sisa usia ini penuh karya.
"fawats tsiqillahumma raabithatahaa.."
Nama merupakan Modal Awal, label, wadah, dan peluang (Wahyudin, Maa, Aku Bisa). Termasuk juga Nama Panggilan. Tidak jarang namanya sudah bagus, eh panggilannya malah sembarangan. Contoh : karena si anak gemuk dan chubby si orangtua memanggil dengan panggilan Gendon, sehingga orang-orang sekitarnya pun memanggil demikian. Singkat cerita sang anak tidak suka sehingga membawa pengaruh buruk pada prilaku sang anak. Niatnya panggilan sayang tanpa sadar malah merusak. Padahal nama asli sang anak Hidayatullah :D (Ust. Fauzil Adhim, Positive Parenting)
Nama saja tidak cukup, harus ada karakter khusus (Brand Image) yang kita berikan pada anak-anak kita. Misalnya Pintar, pemberani, calon penulis hebat, atau calon ilmuwan hebat, dan lain-lain. Brand image ini sebenarnya dibahas lumayan panjang dalam buku yang sedang saya pegang saat ini, judulnya “Maa, Aku Bisa” karya Pak Wahyudin. Mungkin dilain kesempatan bisa dibahas. Akan lebih baik jika kita mengetahui modal awalnya dulu, Nama.
Berikut 10 larangan dalam memberi nama yang saya ringkas dari buku Pak Wahyudin, semoga bisa menjadi bekal kita sebagai orangtua ketika memberi nama anak-anak kita kelak.
1. Jangan memberi nama anak kita dengan nama-nama Allah yang memang khusus untuk-Nya. Yaitu nama-nama ketuhanan yang patut disembah (uluhiyyah) seperti misalnya, Malikul Amlak (Raja Diraja), al-Khaliq (Maha Pencipta), al-Ahad (Maha Esa), al-Baqi (Maha Kekal), al-Muqtadir (Maha Berkuasa), Al-Qadir (Maha Kuasa), al-Mutakabbir (Maha Angkuh), al-Malik (Maha Raja), dan al-Khabir (Maha Mengetahui).
Kalau kita ingin menggunakan nama-nama itu harus memakai kata ‘abdu (hamba). Misalnya, ‘Abdullah (Hamba Allah), ‘Abdul Malik (Hamba dari Dzat yang Maha Menguasai), ‘Abdul Qadir (Hamba dari Dzat yang Maha Kuasa).
2. Jangan memberi nama anak kita dengan nama-nama Allah yang menunjuk bahwa sifat atau perbuatan itu hanya dapat dilakukan oleh Allah semata. Misal, ar-Rahman (Maha Penyayang), as-Somad (Tempat bergantung dan memohon), as-Salam (Maha Pemberi Ketentraman), ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), al-Qabid (Maha Penahan dan Pemegang), al-Basit (Maha Pelepas), dan al-Wali (Maha Pelindung).
Kalau kita ingin menggunakan nama tersebut harus menempuh langkah seperti butir sebelumnya, menggunakan kata ‘abdu (hamba). Tetapi untuk nama Allah butir kedua ini agak lunak. Artinya, kalau kita tahu persis bahwa nama-nama Allah yang kita maksud tersebut bersifat akhlaqi, yaitu mengandung sifat-sifat yang layak kita contoh, maka kita tidak diharuskan memakai kata ‘abdu. Sebagai contoh misalnya, Syakur, Lathif, dan Rasyid.
Namun hemat penulis, akan lebih baik sekiranya tetap menggunakan kata ‘abdu.
3. Dalam memberi nama anak kita, jangan mengikuti kata ‘abdu dengan nama-nama selain Allah, karena dapat membawa kita menghamba pada selain Allah. Contoh nama ‘abdu yang diikuti selain nama Allah, ‘Abdul ‘Uzza dan ‘Abdun Nabi. Contoh nama-nama yang menggunakan kata ‘abdu yang seolah-olah diikuti nama Allah : ‘Abdul Maqsud, ‘Abdul Satar, dan ‘Abdul Maujud.
4. Jangan memberi nama anak kita dengan nama-nama golongan Yahudi, Nasrani, Majusi, dan golongan kafir lainnya yang menjadi musuh Islam.
Contoh : George, David, Geozev, Yara, Diana, Gokalin, Indara, Jeklin, Goli, Suzan, Vali, Victoria, Kloria, Lara, Linda, Maya, Manolia, Haidi, Mardat, Jaudat, Haqi, Syirhan, Syirin, dan Nifin.
5. Jangan memberi nama anak kita dengan nama-nama diktator dan tiran atau orang-orang yang sehaluan dengan mereka. Juga, jangan memberi nama-nama anak kita dengan nama-nama yang jahat (terlebih lagi yang dikutuk oleh Allah). Misalnya, Fir’aun, Haman, Qarun, Abu Lahab, Marx, Lenin, Stalin, Freud, Bush, Ariel Sharon.
6. Jangan memberi nama anak-anak kita dengan kata-kata yang tidak memiliki makna, misalnya, Zozo, Fifi, dan Mimi. Kata-kata itu sekedar indah (karena diperindah dengan aliterasi dan asonansi), tetapi tidak memiliki makna.
Sebaliknya kata-kata penguat aqidah sangat dianjurkan untuk dihadiahkan sebagai nama anak-anak kita. Contoh : Mukminin (orang yang beriman), Zuhdi (Zuhud), Iffah (menjaga harga diri), Nasih (setia, tulus, loyal, ikhlas), dan Munbats (Bangkit).
7. Jangan memberi nama anak-anak kita dengan kata-kata yang terlarang oleh adab kesopanan dan perasaan, bermakna pesimisme, patah arang, putus asa, kehilangan harapan hidup, dan tidak yakin akan masa depan. Contoh : Harb (Perang, Pertikaian), Hazn (sedih, susah, muram), Murrah (pahit), Mutadji (yang berbaring lemah, orang yang tidur miring), Himar (Keledai), dan Kalb (Anjing).
8. Jangan memberi nama anak-anak kita dengan kata-kata yang mudah lekang, lekas sirna, melemahkan jiwa anak, serta menimbulkan tertawaan dan ejekan. Misalnya, Syuhat (timbil), Fulful (Cabe), Khaisyah (karung), Jahsy (rusa), Baghal (keledai kecil), dan Fujul (Buah lobak).
9. Jangan memberi nama anak-anak kita dengan kata-kata yang bermakna rendah, hina, porno, menodai rasa malu, serta bermakna cinta membara. Misalnya : cebol, benjol, Hayyam (tergila-gila dalam cinta), Wassal (makelar), Syadiyah (penyanyi), Hiyam (sangat dahaga), Haifa (kecil perutnya), Ahlam (Impian kosong), Ghadab (marah).
10. Jangan memberi nama anak kita dengan kata Muhammad dengan menyatukan gelarnya, Nabi Muhammad saw. Termasul gelar beliau misalnya, ‘Abdul Qasim. Juga jangan memberi nama anak dengan kata-kata yang tidak disenangi oleh Nabi, misalnya : Najih, Nafi’, Aflah, dan Robah.
Demikianlah 10 “jangan” yang perlu kita perhatikan dalam pemberian nama anak.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah. Apakah hak anakku ini atasku?” Rasulullah menjawab, “Membaguskan namanya, memperbaiki adabnya, dan menempatkan pada posisi yang baik.” (hr. at-Tabrani)
Sejak nikah jadi rada selektif milih makanan, apalagi kalo berkaitan dengan bumbu dapur instant, terutama penyedap. Selama ini saya termasuk emak-emak yang ga pake penyedap kalo masak. Alhamdulillah suami (include me) sudah mulai terbiasa. Kalo menurut suami sih, itu tergantung kebiasaan. Menurut beliau lagi, persentase penyedap mempengaruhi keenakan masakan memang tinggi, menurut hitung-hitungannya bisa sampai 30% ehehe…
Untuk alternatifnya, beberapa bulan belakangan saya tukar dengan bumbu kaldu non-msg yang sekarang ini lagi marak beredar di pasaran. Tapi saya pribadi lebih “merasa aman” ga pake penyedap. Jadi untuk beberapa jenis makanan saja yang kadang saya tambahkan.
Terkait MSG (Monosodium Glutamate), saya banyak baca-baca juga referensi-referensi yang beredar, dari yang pro sampai yang kontra, rasa-rasanya bertabur ya di dunia maya artikel-artikel sejenis. Ternyata banyak juga komentar-komentar yang berisi pengakuan “ga pede kalo masak ga pake penyedap”. Saya juga ga expert untuk menjelaskan lebih mendalam tentang MSG or not. Akhirnya ambil kesimpulan, ya udah deh daripada ragu mending ga usah pake hehehe…
Setelah saya coba telusuri, dari dokumenter, artikel, sampai buku, ternyata kunci “enak” itu terletak pada cara mengolah, variasi bumbu, dan kualitas bahan makanan (alami). Satu lagi, laper hehe…
Saya dan suami pernah nonton mengenai kesederhanaan pengolahan masakan masyarakat Tuscany di channel NatGeo. Disebut sederhana karena masyarakat Tuscany mengolah makanannya dengan bumbu dan cara yang sangat sederhanaaa sekali. Tapi kok masakan mereka tetep enak ya. Ternyata kuncinya ada pada kualitas bahan makanan dan cara mengolahnya.
Ikan yang mereka olah adalah ikan yang segar, baru dipancing di laut langsung dipanggang “cuma dengan” kombinasi 2 bahan saja, minyak zaitun dan daun rosemary. How simple but delicious! Ngliat mereka manggang berasa sampe kesini asap nya, asapnya doank T.T
Begitu juga dengan manggang daging sapi. Daging sapi yang mereka panggang bener-bener daging sapi segar. Dan bumbunya? GA ADA. Iya! Mereka ga pake bumbu. Saya sampe bertanya-tanya, gimana caranya enak kalo ga pake bumbu. Rahasianya ada pada cara pengolahannya, dari cara bolak-baliknya, ukuran waktunya, dll.
Pasti tau Negara Islandia ya. Negara ini terkenal dengan gunung-gunung berapi mereka yang aktif. Mau tau ga salah satu makanan terkenal mereka apa? Roti Gandum yang dipanggang di sekitar gunung berapi! Cara manggangnya, roti gandum ditimbun di dalam tanah sekitar gunung berapi yang memang panas. How cool T.T
Contoh sederhananya lagi adalah sotong. Sotong itu ga perlu penyedap apa-apa loh sodara-sodari. Karena memang sudah ada kandungan dari tubuhnya yang membuat si sotong kalo dimasak jadi gurih.
Yang paling enak itu memang yang alami ya ternyata. Jadi untuk beberapa bulan ini saya sedang “berlatih” untuk menerapkannya, yah walaupun masih belajar. Dari buat kaldu ayam sendiri sampe menyiasati sayur bening. Agak ribet sih, kudu rajin, tapi itu tergantung kebiasaan kan ya.
Beberapa tips sederhana saya dapet dari keluarga, restoran, dan temen-temen halaqah. Ceritanya pas buka puasa bersama tahun lalu saya lagi nyari-nyari cara “gimana biar enak tanpa penyedap?” Nanya-nanya sama mba-mba yang lain, hampir mayoritas pake penyedap. Tapi Alhamdulillah, ada juga yang seide.
Menurut si Mba', untuk mengganti penyedap bisa dengan menambah kuantitas bahan dasar, terutama BAWANG PUTIH dan MERAH. Nah, untuk yang ini saya bisa aplikasikan pada sayur bening, sayur tumis, atau masakan berkuah dan tumisan lainnya.
Dari restoran. Iseng kemarin nyobain rumah makan baru di salah satu mall di Batam. Mesen sayur bayam bening. Testing ceritanya. Soalnya favorit suami dan saya. Eh, nemu yang beda. Selain bumbu dasar lain, si penjual juga menambahkan JAHE dan LENGKUAS di sayurnya. Enak juga.
Kalo dari keluarga, sayur bening bisa dicampur beberapa batang daun KEMANGI. Yang ini favorit saya. Simple. Tapi simple semua kok caranya. Kalo kaldu saya lebih milih buat sendiri, kecuali lagi males hehehe… memang butuh perjuangan ya membuang kebiasaan lama (_ _!)
Kalo ada tips-tips yang lain tambahin yaaa akhwati fillah :) sharing-sharing. Semoga kita bisa mengaplikasikan cara-cara sehat mengolah makanan dalam keluarga kita. We start in our own family first. Happy trying! :)